Tan ! (21)

 


 

Aku menggulung tikar jerami
beserta pecahan kaca yang berserakan di lantai
Aroma akasia yang ditebas oleh hangat suam kuku dari balik lemari
memercik hingga matahari makin lembab dan sembab
Aku menyusur perapian saat
kau mungkin akan berpaling muka ke luasnya rentang tangan ku
Tangan yang tak akan pernah tau apa itu lelah
saat beban mu mungkin lebih menggunung dari sesak ku

Sayang, perebahan ini tak akan pernah selesai
Meski memudar dibawa kemarau
dalam hitungan jam dinding yang kau gantungkan setengah di sudut pagar rumah
Akan ku hitung segala hal yang akan membuat mu lelap  dalam semesta kita
Dalam pangkuanku..
yang tlah siap untuk penghantaran segala penat

Komentar

Postingan Populer