Tan ! (16)
Tan, ada atap rumah yang roboh
Dan runtuhannya jatuh tepat di atas kepala ku
Aku berusaha menopang dengan tenaga yang tlah ku persiapkan sejak janin dihantam pilu
Beserta amarah yang ku tabung hingga pembuluh darah nyaris pecah
Namun daya topang ku ternyata hanya tinggal seujung kuku kian
Pondasinya retak bak tulang yang patah tak tersambung lagi
Tiang-tiang nya memang kerdil sejak lampau ditutupi koran-koran lapuk yang gagal mendoktrin isi kepala dan gagal menjinakkan batin
Dan raungan karena terkaman oleh manusia brengsek yang bertindak bak jagal di malam buta bahkan tak terdengar
Tersumbat, terhambat oleh jeritan luka sendiri
Tapi, Tan..
Puji bagi semesta, aku dibiarkan bergantung pada mu
Aku bukan sorang cedera yang malah bertumpu pada manusia cacat seperti tempo lalu
Kau titipkan tongkat penyangga dan melepuhkan api yang hampir membakar diri ku sendiri
Jadi penampung segala kekosongan yang bermuara menjadi badai yang hampir meremukkan diri sendiri
Dan lebih dari semua,
Atas segala puing reruntuhan yang membuatku nyaris tertimbun di tanah tak bertuan
Kau hadir sebagai anti-thesa bahwa dunia masi menyisakan tempat untuk pulang
(Terima kasih sudah hadir di masa paling sulit ini..)


Komentar
Posting Komentar