Tan ! (14)

 


 

Seumpama pohon, kita bukan lagi benih yang masih mencari tempat bagi akar meliuk aman
Kita adalah pohon yang akarnya bahkan menggantung di sisian langit dan batangnya hampir dibantai
Mereka yang baru menjelajahi bagaimana eksploitasi bekerja
Teriak-teriak hingga parau anti-penindasan dan revolusi
Kita sudah membangun bata demi bata di pelataran jembatan menuju kemudi kehidupan tanpa ketergantungan


Seumpama rumah, kita sudah lelah bongkar pasang
Saat mereka masih gamang membangun pondasi
Reaksioner dengan segala amarah dan emosi
Entah demi apa
Entah memang marah pada sistem yang bobrok, entah pelampiasan pada hidup sendiri yang berantakan

Kadang manusia suka berbohong, Tan!
Berlomba-lomba mensabotase diri sendiri
Membangun teori setinggi mercusuar, terlihat mewah dan agung dengan mahkota di pikirannya
Padahal sekedar justifikasi perilaku sendiri
Agar tak terlihat dungu,
Agar tak tampak rapuh

Seumpama tanah,
Kita tanah yang tlah dibajak berkali-kali namun tetap memberi penghidupan
Karena saat mereka masih laiknya kepompong yang baru menyemangati diri dan membajai mental
Kita sudah siap dengan segala konsekuensi
Kita tak merengek lagi lewat slogan-slogan picisan yang dapat dengan mudahnya kita runtuhkan lewat sekali tebas
Namun kita biarkan saja mereka ranum dan matang sendirinya

Dan melihat mereka aku sadar,
Kematangan adalah harga diri
Dan kau, teman bergelut ku untuk itu 💚

Komentar

Postingan Populer