Tan ! (13)
Ku hitung rumpun bambu yang menyisip di dinding-dinding basah depan rumah ku
Sambil mengeja ulang patahan-patahan imaginasi ku yang mulai rapuh oleh tautan malam yang kian pekat
Aku serupa menunggu layangan putus mengejar aku lewat sayap-sayap maya yang lepuh oleh lidi-lidi tua
Terbalur oleh matahari lalu dirundung awan,
Aku pun mulai temaram!
Tapi, Tan..
Aku berharap tatapan ku tak tertutup selaik harapan menggantung jauh dari sangkarnya
Semoga gemuruh yang jatuh satu-satu dalam kepala ku punah
Dan pertengkaran dalam tempurung batin ku hanya peluapan yang akan menemui tungku nya
Aku takut,
Kita menuang mimpi terlalu banyak di meja perkopian
Lalu kita lupa menyeduhnya dengan air panas sepanas bara yang kita jaga di lubuk penuh cekam kau dan aku
Semoga ia nya tak menjadi lorong penuh umbar ketakutan yang dirobohkan oleh suluh palsu yang kita tanam di pot-pot tanpa benih
Kemana sauh harus dihentak?
Kemana baling harus diputar?
Kemana kayuh harus dihampar?
Kemana kemudi harus diarah?
Kemana kemudian?
Kemana?



Komentar
Posting Komentar