Pandemi dan Lucunya Sistem Pendidikan Kita
Tulisan ini mungkin bisa menjadi refleksi kita bersama atas kesadaran baru atas konidisi pendidikan kita akibat situasi pandemi. Pandemi memang membuat rakyat pusing atas banyak hal. Mulai dari ancaman atas nyawa, kesehatan, ekonomi, kehidupan sosial, dsb. Namun isu yang tak kalah heboh dan tak kalah membuat pusing rakyat di masa pandemi selama ini juga adalah terkait masalah: pendidikan. Ya, di saat orang tengah panik-paniknya atas angka korban Covid-19 yang membludak, juga kondisi ekonomi yang mencekik, dan pada saat yang sama rakyat juga harus pusing akibat berbagai permasalahan belajar dari rumah. Saya sendiri selama ini mendpat banyak keluhan dari para teman yang menjadi orang tua. Mulai dari keluhan tidak punya waktu dan tidak sabar menemani anak belajar, juga karena para guru terkesan main gampang saja: tinggal memberikan PR dan tumpukan tugas setiap harinya. Dari TK hingga universitas, polanya sama saja. Hanya satu-dua yang bermoral dan rajin untuk merancang pola pembelajaran ideal dengan mempertimbangkan kondisi psikologi dan kebutuhan intelektual anak, melakukan tatap muka dan diskusi daring via berbagai aplikasi sepanjang jam pelajaran, dsb. Belum lagi masalah kendala ketersediaan akses teknologi, dsb. Dan beberapa waktu lalu saya juga melihat adanya diskusi mengenai isu ‘siap-siap masuk sekolah lagi’. Mungkinkah kita siap?
Tapi, satu hal yang saya herankan dari para pihak yang mengeluh terhadap pola pembelajaran yang dianggap merepotkan ini, apakah Anda tidak merasa terlalu terlambat untuk mengeluh? Ketika kita tiba-tiba stress atas pola dan kualitas yang buruk atas pembelajaran saat ini, seolah-olah selama ini kita hidup dalam sistem pendidikan yang sangat bermutu yang menghasilkan guru-guru kompeten dan proses pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan, dengan seperangkat fasilitas yang memadai.
Ketika ada yang bertanya dan
menyampaikan keluhan pada saya tentang betapa buruknya pola pembelajaran dan
inkompetennya para guru, saya sering bertanya balik: memangnya kapan sistem
pendidikan kita pernah bagus? Sejak kapan Negara ini pernah betul-betul peduli
dengan sistem pendidikan? Memangnya kapan pemerintah pernah serius mengurusi
pendidikan? Jangan hitung lip-servicenya
ya. Dari dulu hingga sekarang pendidikan kita bahkan tidak jelas orientasinya: manusia
seperti apa yang ingin mereka hasilkan? Bisa sih diukur, lihat saja karakter
mayoritas manusia Indonesia kebanyakan: korup, penyebar hoax, diskriminatif,
yang zalim sangat zalim dan yang ditindas pasrah saja, suka menipu dan mudah
ditipu, gampang diprovokasi, individualis, dsb.
Soal kualitas guu, apakah selama ini orang-orang yang menjalani profesi di bidang kependidikan adalah orang-orang yang sedari awal punya cita-cita mulia untuk mendedikasikan hidupnya untuk mendidik atas dasar moral, spirit dan upaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan kapasitas setiap saat? Bukannya banyak orang yang akhirnya memilih jurusan keguruan karena sudah tidak diterima di sana-sini, disuruh orang tua, keuntungan ekonomi sertifikasi atau berbagai alasan paragmatis lainnya berbasis kenyamanan pribadi. Apakah lembaga pendidikan tenaga kependidikan selama ini punya standar untuk menerima para calon guru dan punya kapasitas mendidik para calon guru untuk memiliki moral dan kapasitas seperti yang kita harapkan? Apakah pemerintah dan institusi pendidikan kita memiliki sistem ideal dalam merekrut calon guru, dan apakah setelah menjadi pengajar ada sistem peningkatan kapasitas untuk memastikan ketercapaian suatu standar ideal tertentu? Bukan standar birokratis atau formalitas seperti yang selama ini berjalan yang entah apa substansinya.
Kita bahkan masih mewarisi pola pendidikan kolonial. Ya, memangnya apa yang sudah berubah? Anak-anak kita setiap hari dicecoki orientasi sekolah tinggi-tinggi untuk menjadi pekerja industri atau abdi negara. Negara yang menindas ini. Mereka setiap hari diberi materi pembelajaran yang belum tentu relevan dengan realitas dan kebutuhan hidup mereka sendiri. Mereka setiap harinya hanya diberi seabrek bahan untuk dihapal lalu diujiankan. Mereka harus tuntas dan sempurna di belasan mata pelajaran yang bahkan tidak sesuai dengan minat dan bakat mereka. Pembelajaran berorientasi kesenangan para guru dan pihak sekolah. Maaf bapak ibu, anak-anak tidak ditanya minat dan bakatnya apa, tidak diselami kecerdasannya di ranah apa sehingga guru akan menyesuaikan proses belajar dan evaluasi sesuai kecerdasan itu.
Kalau fasilitas pendidikan,
kita tau betul bahkan masih banyak sekolah yang belum memiliki standar fasilitas
minimum. Apalagi basis teknologi yang kita butuhkan di masa pandemi. Belum lagi
jenis perilaku pemerintah kita yang: kita butuh kelas yang layak, yang dibangun
lapangan basket; yang kita butuh fasilitas berbasis teknologi yang ditambah
malah taman sekolah. Lebih miris lagi, ada fasilitas tekonologi, guru-guru tak
bisa pakai. Sekolah dan pemangku kebijakan santai saja, seperti bukan urusan
mereka.
Anak-anak kita sudah menderita dan ditindas oleh sistem pendidikan sejak dulu. Intelektualitas dan psikologi mereka sudah tidak diakomodir sejak dulu. Mereka sudah menjerit di dalam hati sejak dulu. Kita ini kan sedang tidak tinggal di Finlandia (bukan untuk menduplikasi sistemnya yang beum tentu cocok diterapkan di berbagai tempat). Tapi beberapa negara dan sistem pemerintahan berhasil menunjukkan moral, semangat, keseriusan dan itikad baik dalam dunia pendidikan. Dan mereka berhasil dalam sistem pendidikannya bukan hanya karena berhasil membentuk orientasi pendidikan yang masuk akal, dekolonialisasi, proses pembelajaran yang nyaman bagi anak, sesuai minat bakat mereka, sistem evaluasi yang mengukur kecerdasan otentik anak dan membuktikan tidak ada anak yang bodoh, membuat anak memiliki sistem berpikir yang logis, kapasitas intelektual yang memadai, memahami realitas, menumbuhkan empati bahkan menumbuhkan spirit anti-penindasan dengan melakukan sistem rekrutmen yang layak bagi guru dan membuat sistem untuk meningkatkan kualitas guru baik dalam hal: intelektual, psikologi, pedagogi dan moral sehingga mempersempit ruang bagi guru yang tidak bermoral, malas, masih nyaman menyiksa siswa, dan kurang cerdas. Serta upaya sistemik lainnya. Bahkan mereka berhasil menunjukkan kualitas pendidikan mereka dengan menghasilkan sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial dan budaya bahkan psikologi sosial terbaik.
Bagaimana bisa Anda tiba-tiba mengharapkan sistem pembelajaran menjadi ideal di masa pandemi atas sistem buruk dan usang yang telah lama kita biarkan berjalan? Semoga pandemi ini bisa menjadi titik balik bagi para orang tua untuk lebih peka dengan sistem pendidikan dan pembelajaran yang sudah lama menindas ini. Karena kita tidak bisa mengeluh atas sistem pendidikan ini dengan memotong ranting saat masalah utamanya adalah pada keseluruhan pohon. Anda harus mencabut akarnya! Atau bisa jadi Anda selama ini sudah tau, hanya saja selama masa pandemic ini kita kehilangan tempat penitipan anak—seperti kata seorang pengamat pendidikan. Lagi pula, bagaimana kita bisa berharap pemerintah bisa peduli dengan masalah sistem pembelajaran di masa pandemic, saat mereka tidak memiliki keseriusan mengurusi masalah paling krusial pandemi yang secara langsung mengorbankan banyak nyawa hingga angkanya membludak seperti sekarang. Sebagian pemerintah bahkan sudah membuka sekolah dalam situasi pandemi karena tak mau repot, meski kita tau bahwa sekolah juga sudah menjadi cluster. Katanya, pandemi ini bukan merusak sistem, tapi menunjukkan seberapa bobrok dan rusaknya sistem kita selama ini. Pemerintah kita sehari-harinya tidak becus mengurusi rakyat, dalam hal apa saja, tidak mugkin tiba-tiba mereka kesambet roh halus dan bim-salabim jadi keren di masa pandemi. Oh, Please!
****
Oya, aku dan siswa ku juga pernah diwawancarai terkait pandangan kami mengenai kondisi ini dan dimuat di salah satu media mainstream.
Link berita online nya klik di tautan berikut yak: Kisah Siswa di Balik Belajar Daring



Komentar
Posting Komentar