Menghadirkan Sastrawan dan Satra Perlawanan di Ruang-Ruang Kelas
Hari ini saya dan siswa belajar tentang sosial-politik dan perlawanan via Seni dan Sastra. Menyajikan workshop dan project. Dan saya mengundang tamu istimewa Irfan Maulana atau yang biasa kami panggil dengan Vandoll dari Komunitas Kanot Bu untuk join di kelas Daring kami, karena Irfan cukup handal dalam meciptkan dan membaca puisi-puisi perlawanan. Ia membacakan puisi karyanya sendiri kritik atas Omnibus Law dan saya memintanya membacakan puisi 'Kau ini bagaimana atau Aku harus bagaimana' nya Gus Mus.

Irfan dalam status media sosialny juga memberikan apresiasi dan kesan atas kehadirannya di kelas:
Menarik, ada nya seorang guru yang bisa memperkenalkan sisi keagungan nya sastra kepada siswa-siswi kelas menengah atas, yang selama ini luput dari perhatian elit sastra, guru, maupun dosen sastra sendiri. Sejatinya-Pada zaman penjajahan Belanda, anak-anak SMA diprogram untuk membaca 15 novel. Itu untuk bagian B, Sedang untuk bagian A malah 30.
Jadi, pada zaman Belanda, anak tamat SMA setidaknya telah membaca 15 buku sastra dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris, dan sedikit yang berbahasa Melayu. Sayang pada tahun 1951 pemerintah Indonesia memotong kebijakan itu. Alasan mereka waktu itu, negara kita baru merdeka, tidak membutuhkan sastrawan, yang diperlukan adalah insinyur, dokter, ekonom, “Konyol, bukan?”. Makanya tidak heran jika kita lihat sekarang banyak penulis serta sastrawan yang lahir namun tidak menghasilkan karya yang berkualitas.
Bayangkan berapa banyak Master dan Doktor Sastra di Indon?! Apa yang udah mereka lakukan paling nggak untuk mencerahkan publik apa beda Sastra dan Non-Sastra dalam konteks Tulisan macam Fiksi/Novel dan Puisi?! Para "profesor" Sastra macam alm Sapardi Djoko Damono, Maman S Mahayana, Faruk dsb itu harusnya dibawa ke pengadilan karena GAGAL melaksanakan Tugas mereka memajukan Ilmu Sastra di kampus-kampus Indon! Mau tidak mau, sastra harus diajarkan sejak dini. Orang tua mesti sadar, bahwa sejak awal anak harus dibiasakan membaca, wajib menciptakan situasi tertentu agar anak dekat dengan buku.
Penyair sendiri hampir selalu berada dekat dengan kekuasaan, jika penyair melihat bahwa raja telah melakukan tindak sewenang-wenangan, terjadi penyalahgunaan kekuasaan, korup, menunjukkan perbuatan brengsek, cacat moral, dan tidak lagi berpihak kepada rakyat, maka puisi-puisi yang akan ditulis penyair harus menjadi serangkaian teriakan lantang yang bertugas mengingat kan raja. Penyair tidak lagi berada dibelakang nya, melainkan berhadapan dan melakukan penentangan-perlawanan melalui kata-kata dan tindakan. Tugas penyair sebatas itu; memberi penyadaran dan melakukan perlawanan melalui ketajaman bahasa. Ia akan berada dibelakang kebenaran dan mendorongnya agar menjadi kenyataan, atau bahkan berhadapan dan melakukan perlawanan atas kebrengsekan raja!!!
Maka, untuk meningkatkan kuasa Sastra dalam sejarah modern, kita membutuhkan mekanisme yang sanggup menghubungkan Sastra dengan keluarga, adat, agama, perusahaan, negara, dan pemerintahan keragaman negeri ini.Kehadiran guru-guru yang memperkenalkan sisi Sastra yang dapat menyentuh dan mengolah kembali aspek metasejarah Sastra yang selama ini telah menjadi jembatan komunikasi antara penyair dengan penguasa, sungguh sangat di butuhkan. Karena sejatinya, karya Sastra tidak sekadar kreasi berdasarkan bentuk estetis, Sastra juga menggerakkan!!.
Terimakasih kembali untuk ibuk Fatma Susanti, senang bisa ikut baca puisi di kelas nya.



Komentar
Posting Komentar