Ketika Sosiologi dan Psikologi Sosial Bertemu
Kami tengah masuk materi Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian di pelajaran Sosiologi.
Ini materi yang sangat krusial bagi saya. Melalui materi ini, saya bisa bebas memaparkan realitas-realitas tentang bagaimana kita selama ini disosialisasi dan bagaimana dimensi kepribadian manusia. Karena kita selama ini merasa otomatis tidak pernah ada yang salah dengan cara kita disosialisasi, merasa kita baik-baik saja, merasa pasti tidak ada yang salah dengan kepribadian kita. Kita bahkan diajarkan dengan baik tentang bagaimana membohongi diri sendiri, merasa pura-pura nyaman dengan diri sendiri dan sekitar, menekan perasaan dan keinginan sendiri. Kita tidak pernah diberitahu, bahwa ada sosialisasi dan pola asuh yang buruk, ada penyerapan kepribadian yang buruk, dan ada yang namanya personality disorder.
Ga heran, orang-orang yang mengaku intelektual, aktivis, social justice warrior, dan pembebas pun suka menindas orang, masi suka memanipulasi, masi belum merdeka, masi bermasalah secara moral. Tapi kita merasa benar dan baik-baik saja. Tidak tau, tidak mau tau, atau mungkin tidak bisa menerima bahwa kepribadian dan mental kita mungkin bermasalah.
Saya memberi siswa alat analisa sosialisasi dan kepribadian secara kritis. Saya minta mereka me-riset diri mereka sendiri tentang bagaimana cara mereka disosialisasi dan kepribadian mereka, secara tertulis. Lalu saya juga melatih mental mereka untuk berani, jujur dan terbuka melalui diskusi lisan duduk melingkar, untuk menyampaikan kepribadian mereka kepada teman-teman mereka, apa yang mereka ingin agar teman-teman mereka pahami tentang diri mereka (understand me please bcoz I....../ understand me if I am......) dan meminta kritik atas kepribadian mereka. Jangan sampai mereka jadi orang yang lemah atas kritik, punya kebiasaan buruk suka membicarakan orang di belakang, tidak mampu menerima diri sendiri dan orang lain.



Komentar
Posting Komentar