Kita ini cuma Social Justice Warrior (SJW) Abal-Abal!
Jadi begini.
Saya punya beberapa teman, kebetulan mereka adalah --sebut saja-- SJW. Bekerja untuk isu-isu kemanusiaan, bicara pembebasan, pro rakyat, dan yang sejenis-sejenis itulah. Tapi kadang-kadang mereka ini kok suka lucu. Mereka ngeluh: kok rakyat kita ini ga ngerti-ngerti ya, kok rakyat ini banyak yang jadi penindas ya, kok rakyat ini ga punya rasa kemanusiaan kayak kita ya, kok sudah sebanyak apapun saya bekerja rakyat masih gitu-gitu aja ya.
Sebagian masih istiqamah di jalan perjuangan, sebagian lagi demoralisasi, bentuk demornya tentu macam-macam. Sebenarnya itu manusiawi. Kadang saya juga gitu. Bedanya paling, kalau saya lagi demor, ga buat heboh saja. Cukup curhat dengan kawan-kawan terdekat.
Di saat ada teman yang demikian, saya kadang suka bingung mau respon apa. Apa saya harus bilang, "Tadi baru siap mimpi ketemu rakyat di kawasan Amerika latin atau Nordik ya? Bicaranya ngelantur gitu. Ini Indonesia, Cuk! Rakyat kita hidup dalam sistem sosial dan sistem pendidikan kacau yang 'menyebabkan' mayoritasnya paling banter juga kesadaran naif kalo bukan kesadaran magis, dan emangnya itu bawaan lahir?"
Kita ini emang suka ngelucu. Kesadaran kitanya aja ternyata masi kesadaran naif, tapi cita-citanya revolusi. Sabaaar...
Kita-kita ini, yang bahkan belum berdaulat atas diri sendiri, belum mampu melawan kezhaliman yang dilakukan oleh diri sendiri dan terhadap diri sendiri, masi belum mampu membebaskan diri sendiri baik secara fisik, mental, intelektual, sosial, ekonomi, dsb harusnya agak sedikit tau diri ketika bicara atau bergerak di isu kedaulatan.
Bukannya tak boleh. Hanya saja, perjuangan yang sakral itu bukan hanya perjuangan luaran, bukan hanya gerakan melawan sistem.
Lawan dulu diri sendiri, lawan dulu kezaliman sendiri, bebaskan dulu diri sendiri, pastikan dulu moral sendiri, berdaulat dulu atas diri sendiri. Pastikan kita bukan orang-orang munafik seperti orang-orang yang kita kritik.
Baru pimpin orang untuk berdaulat.
Kita ini, mental belum merdeka, bodoh masih banyak, hidup masih dikontrol orang, moral masi rendah, sehari-hari masi menzhalimi orang, lalu merasa layak khutbah bahkan memimpin kedaulatan publik.
Kita kadang selucu itu.
Kita mungkin bisa membohongi orang, tapi tidak diri sendiri.
Oh tidak, saya lupa. Kita juga sering bohong dan memanipulasi diri sendiri.
Padahal para
pejuang sebelum memperjuangkan ideologinya wajib bebas atas diri
sendiri dulu, menghantam keras diri sendiri dulu, mengkritik ideologi
sendiri dulu. Aku dan kawan2 kuh disini yang suka
ngaku pejuang pdahal dirinya sendiri belum bebas dan merdeka amat tuh, pada ga sadar
diri tuh, pada anti-kritik tuh, tapi kita tetap pede kok sebagai
pejuang.. yuhuu..









Komentar
Posting Komentar