Suatu waktu, entah karena kesmbet apa, kawan-kawan Komunitas Kanot Bu yang akan menyelenggarakan kegiatan Sakral berupa Pengkaryaan dan Pameran bertajuk SAKARATUSSCHOOL (Sekolah Telah Mati!!!), meminta saya menjadi KURATOR nya. Kronolgis kegiatannya begini:
1. PANGGILAN TERBUKA
Lihat Poster, baca caption.
Akhir tahun kamI menyiapkan karya untuk memenuhi panggilan terbuka ini, awal tahun nanti kamu bakal mengikuti prosesinya seperti tertera dalam 3 flyer. Buatkan sebuah gambar yang menurut kamu sekalian paling mewakili suaramu, pacarmu, orang tua dan handai taulan di lingkunganmu. Baik itu perkara yang tak selesai-selesai dibahas dan dikerjakan oleh pemerintah maupun oleh rakyat. Karyamu Boleh mendukung atau mengkritik. Pokoknya, hasilkan karya dalam keadaan rasa dan pikiran sedang bisa diajak kerjasama. Karya boleh manual dan digital. Sertakan penjelasan minimal 172 kata. Jangan lupa juga nomor kontak WA/telpon dan akun instagram tempat kamu memuseumkan karya. Itu penting untuk kami timbang-timbang seberapa konsistennya kamu menghasilkan karya.
Yang lulus seleksi akan dihubungi nanti untuk bergabung mengikuti diskusi, pengkaryaan dan pameran. Jangan risau! Semua keperluan pengkaryaan kami sediakan. Kamu tinggal mengaktifkan imajinasi dan membumbui karyamu sebaik-baiknya.
(by: Komunitas Kanot Bu)
2. PEWACANAAN (DISKUSI)
Suatu sore di #bivakemperom. Kita bincang-bincang tentang sekaratnya bersekolah. Diskusi ini sebenarnya untuk mengawali pengkaryaan yang akan berlansung seminggu. Untuk pameran seni rupa di tanggal 18 Januari 2020 nanti. Untuk itu, kami menghadirkan ke hadapan saudara sekalian 3 pembicara seperti tertera di poster. Mereka akan mengetengahkan pada kita apa sih perlunya ke sekolah, apa itu putus sekolah tanpa berhenti belajar dan tata cara tak biasa mendapat pengetahuan dalam komunitas. Seperti penggalan kalimat kurator berikut ini:
"betapa zhalimnya persekutuan antara kekuasaan dan pengetahuan secara terstruktur dan sistemik".
Diskusi, pengkaryaan dan pameran ini dikuratori oleh Fatma Susanti--Seorang pendidik di Banda Aceh.
(by: Komunitas Kanot Bu)
BTW,
di agenda ini, tanpa sepengetahuan saya, saya ditugaskan menjadi
Moderator diskusi. Iya sih, sebagai KURATOR bisa saja fungsi ini krusial
karena informasi apa yang disampaikan oleh Pembicara akan menentukan
kualitas dalam Pengkaryaan. Sehingga menjadi tugas saya mengulik para
Pembicara agar apa yang disampaikan bisa selaras dengan perspektif Pendidikan Kritis
yang saya inginkan dalam pengkaryaan para peserta. Cuma agak riskan
karena saya belum pernah menjadi Moderator dan betapa kawan-kawan saya
punya kelihaian tertentu untuk menjebak dan membuat saya seperti tidak
punya pilihan 😆
 |
suasana diskusi sore itu, huhu..
|
3. WORKSHOP
Peserta workshop SakaratusSchool di
#bivakemperom mulai mengerjakan imajinasi. Generasi gembira ini berpotensi menjadi suluh. Di tengah reuneum dan pengurus Aceh yang meraba-raba.
4. EKSIBISI / PAMERAN
Pewacanaan dan proses pengkaryaan ibarat proyek menjebol pintu istana seorang sultan pemurah namun bakhil. Peserta berproses secara individu namun saling membantu. Kini, tibalah masanya masuk ke ruang eksebisi. Dimana kekuasaan sultan bakhil telah pecah berkeping menjadi ungkapan khas; satire, sarkas, nyinyir dan olok-olok dalam lukisan.
Anda dapat hadir pada malam tersebut mengikuti rangkaian acara pembukaan hingga selesai. Masuk ke ke ruang pamer dan menonton secara khidmat lukisan anak muda Aceh yang tangguh dan mandiri. Kalau anda tertarik, anda dapat menghubungi panitia untuk melakukan transaksi. (by: Komunitas Kanot Bu)

Diskusi, pengkaryaan dan pameran SAKARATUSSCHOOL telah terlaksana dengan tiada satu hambatan apapun. Kami lega telah melaksanakan satu rangkaian pendek dan membahagiakan ini. Masih banyak kekurangan dan bolong-bolong untuk satu peristiwa seni rupa. Mungkin itu akan ditambal oleh komunitas seni lain. Namun begitu kami sangat berterimakasih kepada hadirin diskusi yang telah meramaikan dan ikut terlibat aktif saat Dedy Besi dan Landak Aulianda berbicara tentang bagaimana mereka memandang sekolah dan pengetahuan yang mereka dapatkan dari jalanan hingga membentuk jiwa mereka yang tangguh (terima kasih untuk kalian. Plus Jal Kayu yang tak bisa hadir).
Guru Fatma Susanti adalah orang yang melebarkan tema Sakaratusschool sehingga tidak statis dan membosankan sebagaimana hari-hari kita kita di medsos dalam melontarkan kritik pada apa pun. Sebagai guru yang maju dalam pikir dan tindakan, Fatma Susanti usah diragukan.
Pada saat pengkaryaan, kami berterimakasih kepada peserta baik yang jalur seleksi mau pun yang datang karena ingin mengekspresikan diri. Komunitas Apotek Wareuna, Akar Imaji, Rungka Sigli, Mazk, Panyot Komik, Problematique Banda Aceh. Komunitas2 itu diwakili oleh perupa muda potensial yang kami sebut sebagai angkatan tanpa waspada.
Di malam pembukaan pameran yang memukau, deklamator muda bernama Vandolls (Irfan Maulana) membuka acara dengan puisi yang diciptakan sorenya.
Sri Wahyuni dan Fuadi S Keulayu juga sangat menghibur. Seperti kata Fuady malam itu, "tampil di rumah sendiri itu enak. Kalau salah2 bisa ulang"
Fatma sebagai kurator malam itu memberi khotbah kuratorial dalam kondisi mikrophone tidak berfungsi. Tapi cukup menyihir penonton. Itu karena beliau tidak tampil seperti pejabat dinas pendidikan yang kemana-mana memberi nasehat kepada guru, naskah pidato sudah ada yang tulis. Kadisnya tinggal baca. Jangan-jangan, pendidikan salah arah karena penulis naskah pidato mantan camat.
Kemudian Jelatank pada malam itu tampil hanya diwakili oleh Pan Amru. Ini orang sudah memusnahkan akun facebook. Jadi tidak bisa dipanggil. Beliau membawa lagu ciptaan sendiri berjudul Nek Munah. Bercerita tentang Nyak penjual sayur di pasar yang diusir satpol PP. Lagu satu lagi milik Tambo Band berjudul Panorama. Dua lagu itu cukup elegan ditampilkan. Cocok melukiskan Aceh yang kaya namun sebenarnya dimiskinkan oligarki lokal yang sep han sep.
Sarjev Hirzymalam itu tampil khusus dan sangat Kraak! Lagu blues yang kocak dan bergumam tak jelas dan hanya jelas saat kata-kata "yak papma yak!" Memecah tawa penonton sepanjang lagu itu dinyanyikan. Penonton tak habis pikir ada penyanyi macam sarjev yang tak pernah mati-matian promo di yutub. Sarjev adalah seniman senior yang kocak. Lagu kedua berjudul jino. Walau serius, lagu ini tetap bikin tawa penonton lagi-lagi pecah. Sarjev tampil penuh humor mengingatkan kita pada P Ramlee. Azizah anaknya Sri Wahyuni juga ikut sumbang lagu dari Jikustik. Remaja ini cukup percaya diri tampil di tengah penonton yang campur baur. Terimakasih Azizah. Nanti tampil lagi kalau ada acara di #bivakemperom. Azharul Husna dan Fuady menyanyikan lagu Dewa 19 berjudul kangen. Mereka tampil terakhir dalam sesi sumbang suara yang berjalan alamiah malam itu. Walau demikian, cukup membikin kenangan pada era 90-an bangkit kembali.
Atas partisipasi anda semua, kami sangat berterimakasih. Selain ramai, anda memberi warna baru bagi acara-acara seni berbasis kebersamaan. Kita bukan anggota dewan yang sikut-sikutan untuk satu kepentingan hanya karena meuteu-oh itu politik. That geupap!
Acara sudah kelar. Namun pameran masih akan berlansung dan anda masih boleh hadir menyaksikan lukisan.
Rangkaian ini berkat kerja sama kami komunitas kanot bu dan Cemeti Institut.
(by: Komunitas Kanot Bu)
 |
Waktu diriku 'dijebak' untuk menyampaikan Khutbah Kuratorial di Pembukaan Pameran
|
***
 |
Katalog SAKARATUSSCHOOL
|
Saya diminta untuk menuliskan Pengantar Kuratorial dalam Katalog, sekaligus pemahaman orang atas Ruh Wacana atas kegiatan ini.
Pengantar Kuratorial
Umpama penderita sakit, sistem
pendidikan adalah penderita penyakit kronis dan komplikasi. Ia menderita sakit
di seluruh bagian tubuh, mulai dari kurikulum, fasilitas, kualitas pengajar,
kampus-kampus dan lembaga penghasil para tenaga pendidik, manajemen lembaga
pendidikan, semua standar mulai dari isi, manajemen, dan penialaian: semua
berantakan. Jika ingin mengobati, kita bahkan bingung harus mulai darimana. Lebih
na’as lagi melampaui segala hal, orientasi dan tujuan pendidikan kita bahkan
tak jelas, anda akan dibawa menaiki kapal oleng yang tak jelas arah tujuannya.
Saya harap kita semua tidak serta
merta langsung membayangkan lembaga pendidikan formal semisal sekolah saat saya
menyebut kata pendidikan, seperti anggapan konyol kebanyakan orang, andai anda
sudah sekolah berarti anda sudah berpendidikan. Semua tempat adalah sekolahpendidikan:
di rumah, masyarakat, sawah, ladang, gunung, lautan, di jalanan; dan semua hal
di semesta ini dapat menjadi guru.
Apa fungsi pendidikan ini?
Sederhana saja sebenarnya: memanusiakan manusia.
Namun sayangnya pendidikan kita
yang sakit kronis ini akhirnya menghasilkan manusia-manusia yang juga sakit
kronis. Pendidikan merusak cara
berpikir, mengeksploitasi mental, tidak membiarkan manusia tumbuh sesuai kemampuan
dan keinginnnya. Pendidikan bahkan dipakai oleh sistem sosial, ekonomi dan
politik yang ada sebagai soft-control, sebagai hegemoni agar kita semua menjadi
alat untuk memenuhi kepentingan mereka yang ingin mempertahankan kepentingan
dan kekuasaan. Menjadi alat yang justru menghasilkan penindas-penindas baru.
Bravo.
Tentu banyak pihak yang harus
ambil andil untuk mengobati dengan cara selemah-lemahnya iman. Dan yang menjadi
salah satu harapan besar di antaranya adalah para seniman. Kita semua tentu
akan sangat bersedih hati bila media seni hanya dipakai sekedar untuk bermuram
durja atas kegalauan dan luka patah hati, sekedar menjadi sarana hiburan nir
makna. Bukankah hanya seni dengan segala lini dan dimensinya yang punya kemampuan
paling ampuh menggambarkan dan menghadirkan realitas bahkan melakukan
kritik-kritik keras yang tidak mampu
dicapai oleh hal lain.
Semoga ada cara bagi seni pula untuk
menggambarkan betapa kronisnya sakit dunia pendidikan, betapa terlukanya para
peserta didik di sekolah dan anak-anak di rumah, betapa kejamnya proses-proses
pendidikan yang dialami manusia selama ini, seberapa otoriter dan tidak
manusiawinya pendidikan memperlakukan manusia seperti robot bahkan mayat hidup,
seberapa pendidikan ternyata malah justru merusak tujuan hidup, cara berpikir, mental dan kepribadian manusia;
dan betapa zhalimnya persekutuan antara kekuasaan dan pengetahuan secara
terstruktur dan sistemik. (Fatma Susanti)
LIPUTAN KEGIATAN
Beberapa kawan menyajikan Liputan Kritis di Media Massa menyangkut Kegiatan SAKARATUSSCHOOL. Diantaranya:
Menemukan Paulo Freire di Bivak Emperom Aceh
Komentar
Posting Komentar