KHAURI NUJOH dan Pendidikan HAM yang Gagal!

 


 
Pameran Seni Rupa Lorong Ingatan: Khauri Nujoh.
 
Senin 09 Desember 2019, di galery seni KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan.) Aceh, beberapa perupa akan mengadakan pameran. Tak ada lukisan. Kecuali sedinding mural dengan pendekatan visual kekinian. Yang dipamerkan Senin nanti adalah karya rupa instalatif. Di mana para perupa merebut ruang pamer sebagaimana kita mati-matian mempertahankan ingatan yang diseret penguasa menuju jurang lupa. Ingatan kita tentang kasus-kasus masa lalu yang diupayakan untuk seutuhnya dilupakan saja dengan saling memaafkan layaknya lebaran. Pameran ini porsinya seniman terlibat mendakwahkan kembali isu pelanggaran HAM masa lalu di Aceh yang larut dalam euforia damai berlebihan dan peringatan-peringatan hari besar dalam bentuk upacara bendera. 
That geusoh tem!  
#khaurinujoh yang diadakan di Kontras Aceh dihelat dengan story dirajut oleh Putra Hidayatullah--Putra Pidie yang produktif menulis cerita pendek dan terlibat aktif di beberapa pameran seni lokal, nasional dan internasional (3 kata itu seakan-akan level kasta). @iswadi dkk @apotek_wareuna_reborn turut serta bikin mural tentang penghilangan dua orang aktivis KontraS pada 2000-an awal. Iswadi dkk Apotek Wareuna dikenal luas sebagai seniman mural yang cepat & tanggap. Baik di teknis pengerjaan, maupun di tema.Sementara kawan-kawan Komunitas Kanot Bu  yang berhimpun dan menamakan diri tertib sipil KKB, membuat seureukap diisi merpati berjudul tromatring dan seureukap tempat Fuadi S Keulayu memainkan hikayatussistance. Seureukap itu diberi judul BamBoom. Fadhlan Bachtiar membuat replika kursi penyiksaan rumoh geudong pada DOM Aceh. Fadhlan menghadirkan perkakas penyiksaan mentah-mentah.Dan meski Khauri Nujoh telah usai secara resmi. Namun karya tetap dibuka untuk ditonton di gallery lorong ingatan KontraS Aceh di gampong Lam Lagang.  
(By: Komunitas Kanot Bu dan Rekanannya)

 

 


Pada Agenda Khauri Nujoh, terdapat satu hari yang tersedia untuk agenda Diskusi.
Saya termasuk yang diminta berbicara mengenai HAM dan Pelanggaran HAM yang pernah terjadi di masa lalu dengan sudut pandang Pendidikan, Pendidikan Kritis tentunya.

 



Ya, kenapa Pendidikan Kritis? Hanya dengan sudut pandang Pendidikan Kritis, masalah HAM dapat dipahami hingga ke akarnya, karena pendidikan kritis memberikan alat analisa untuk memahami HAM dan kasus-kasus pelanggaran HAM dengan sudut pandang SISTEMIK dan STRUKTURAL.

Masalah HAM tentu tidak bisa dipahami dengan sudut pandang naif yang menggunakan sudut pandang mikrofokus bahwa pelanggaran HAM hanya dilihat sebagai kegagalan negara, apa lagi lembaga dan moral personal, tanpa membedah penyebabnya secara ekonomi politik, pertentangan kelas elit-borjuasi dengan rakyat beserta segala perangkatnya. Kita tidak mungkin juga dapat memahami Pelanggaran HAM dengan sudut pandang pemadam kebakaran yang hanya menyorot dan memadamkan kasus-perkasus tanpa melihat ada sistem kuasa atas segala lini yang membiarkan pelanggaran HAM ini menjadi normal dan eksis.

Sederhananya, kalau saya elit-borjuasi, saya menguasai negara dan segala perangkat kekuasaan mulai dari hard control (militer, hukum, pengadilan, penjara) sampai soft control (pendidikan, seni budaya, agama, media masa), saya melakukan pelanggaran HAM dalam kebutuhan-kebutuhan memperkaya diri, masa iya saya ngebiarin rakyat jadi cerdas dan membuat aturan yang menjeboskan diri saya masuk ke penjara. Ada-ada saya. Makanya, belajar HAM harusnya sampai level memahami bagaimana sistem bekerja. Masa iya kita percaya bahwa Mega kasus-kasus pelanggaran HAM tidak diusut karena faktor-faktor teknis.

Hal lain menyangkut pembelajaran HAM adalah bukan hanya terkait kecerdasan kognitif kesadaran kritis tetapi juga menyangkut kualitas mental kita. Hal ini juga yang saya sampaikan di acara Khauri Nujoh ini. berapa banyak dari kita yang sudah sangat cerdas dan memiliki kesadaran kritis dalam menganalisa kasus pelanggaran HAM namun masih memiliki kualitas mental yang sangat buruk, masih belum manusiawi. Kita keras sekali mengkritik keras pelanggaran HAM yang dilakukan negara, namun sikap harian kita masih belum manusia bahkan terhadap diri sendiri dan orang sekitar.

Dalam hal ini pembentukan kualitas mental jauh lebih kompleks jauh lebih rumit daripada pembentukan kecerdasan kognitif menyangkut kesadaran kritis. Saya sendiri sering pusing dengan bagaimana caranya memastikan agar setelah belajar materi HAM dan pelanggaran HAM di sekolah anak-anak saya punya kualitas kepribadian moral dan mental setingkat lebih manusiawi dari sebelumnya, bukan hanya soal menjadi cerdas dalam menganalisa kasus kasus pelanggaran HAM. Karena ada banyak siswa yang bisa jadi mendapatkan nilai 100 dalam menganalisa kasus pelanggaran HAM dan besok dia masih membully temannya dalam hal ini saya merasa pembelajaran mengenai HAM bisa jadi masih gagal.

Saya juga berharap agar kegiatan memperingati kasus-kasus pelanggaran HAM oleh berbagai lembaga tidak hanya menjadi sekedar ceremonial belaka. Idealnya, ada peningkatan kualitas refleksi atas kesadaran kritis dan kualitas mental kita menyakut HAM dan Pelanggaran HAM ini setiap waktunya serta tindak lanjut yang semakin hari semakin signifikan. Kita tidak akana sanggup mendengar cerita yang sama dari tahun le tahun untuk hanya sekedar sebagai agenda memorialisasi tanpa ada kulitas tambahan atas pemahaman kognitif dan mental kita kita menyangkut hal tersebut. 


Agenda Diskusi Khauri Nujoh dapat disaksikan melalui link berikut:

 


Komentar

Postingan Populer