Catatan Perjalanan Ke SINGKIL: Resapan Luka Teman-Teman Beda Agama

 

Cerita ini bermula saat saya mendapat mandat dari pimpinan komunitas saya untuk mengikuti sebuah agenda menyangkut isu keberagaman di Medan. Hanya saja saat itu tidak banyak penjelasan. “Tanya saja sama panitianya nanti”, timpalnya. Panitia yang ternyata adalah kawn-kawan sendiri malah mencukupkan dengan anjuran, “ikut saja lah, nanti tau sendiri”. Demikianlah modal awal saya untuk mau tak mau mengikuti kegiatan tersebut. Saat mengisi form konfirmasi kepesertaan barulah saya mendapat titik terang bahwa kegiatan tersebut bermaksudkan: Penyusunan Mekanisme dan Strategi Kampanye Kreatif Melalui Media Sosial dan Tradisional . Awalnya saya sempat khawatir, apakah saya akan mendengar materi yang itu-itu lagi? Untungnya tidak. Saya mendapatkan banyak refleksi dari penuturan Pak Palti yang berbagi pengaalman soal kasus-kasus diskriminasi yang dialami dan bagaimana perjuangan beliau terhadap kasus-kasus tersebut. Bahwa untuk kampanye yang menjangkau banyak orang kita memang harus mengefektifkan media sosial, namun untuk menyelesaikan problem langsung ya tetap saja harus turun ke akar rumput. Beliau mungkin ingin memastikan kita-kita jangan sampai lupa diri karena saking seriusnya mengandalkan medsos. Saya lebih terkesima lagi dengan penuturan pengalaman kawan Sarjoko dari Gusdurian tentang bagaimana strategi gerakan yang dilakukan melalui counter-narasi di media sosial dan bagaimana hal tersebut bisa memberikan efek besar dalam upaya penggiringan opini publik. Jelas yang keren itu bukan soal pemaparan teoritis dan normatifnya. Tapi soal kerja serius mereka. Saya sampai berpikir, jago betul kawan-kawan Gusdurian ini, serius betul sebagai gerakan. Tidak seperti kita kita ini yang rajin ketika lagi mood, ketika lagi ada budget, yang katanya mau buat gerakan tapi belum mampu mengorganisir diri dengan baik.

Ternyata kegiatan di Medan benar-benar baru awal cerita. Karena setelah mengikuti workshop di Medan, sebagian dari peserta dibawa pergi ke Aceh Singkil untuk melihat situasi masyarakat di sana-- sebagai salah satu masyarakat yang paling rentan mengalami konflik menyangkut isu SARA. Seperti yang kita ketahui pada 2015 lalu saja pernah terjadi suatu kasus yang sempat membuat geger karena terjadi pembakaran gereja dan bentrok fisik antara kelompok yang berujung pada melayangnya nyawa manusia. Saya pribadi sih taunya cuma sampai di situ saja.  Dan saya kira kehidupan di Singkil saat ini sudah lebih membaik. Entah karena saya kurang baca berita entah karena tidak pernah turun langsung ke Singkil—bisa jadi keduanya.

Kami berangkat dari Medan di pagi hari agar dapat tiba di Singkil di sore hari, selambat-lambatnya malam hari. Teman-teman di Singkil sudah menunggu kami sejak sore. Saya tau betul itu dari massifnya telepon yang diterima panitia. Kami tiba di malam hari dan langsung menuju ke sebuah rumah. Di sana kawan-kawan sudah berkumpul di teras.  Mereka adalah kawan-kawan pendeta dan pemuka agama Kristen. Saya sebelumnya sempat bertanya pada panitia, “kita tidak akan formal dan serius-serius sekali ala-ala  FGD begituan, kan?”. “Tergantung mau kita membawanya bagaimana, mau serius jadi serius, mau santai ya jadi santai” timpal panitia. Alhamdulillah. Terkadang saya memang sangat mengkhawatirkan keseriusan.

Kami bicara dengan santai. Mulai dari basa-basi tentang keterlambatan perjalanan ke Singkil karena kami sempat mengalami berbagai kendala lucu yang sebaiknya tak perlu saya jabarkan di sini, cukup kami dan panitia sajalah yang tau. Hingga akhirnya masuk ke pembahasan yang lebih krusial soal kondisi yang kawan-kawan Kristen alami. Misalkan, saya sendiri baru mengetahui bahwa masih banyak jemaat Kristen yang beribadah di tenda-tenda alih-alih di gereja yang layak. Kacaunya lagi, tenda-tenda ini berada di tengah kebun sawit. Mendengarkan langsung kesedihan kawan-kawan memang berbeda dari sekedar mendengar dari cerita-cerita orang atau sekedar berita di televisi. Bukan hanya memperolah informasi, bagi saya ini juga sarana menghaluskan perasaaan, merefleksi mental dan pengalaman batin. Cerita-cerita itu tentu saja sesuatu yang berdampak bukan hanya pada pikiran namun juga perasaan. Ada rasa-rasa tertentu seperti kesedihan, kekecewaan, miris, duka dan lain sebagainya yang hanya bisa kita peroleh lewat berinteraksi dan berdialog langsung seperti ini. Bayangkan saja selama berjam-jam saya saya harus mendengar cerita mengenai bagaimana sulit dan mirisnya beribadah di tenda-tenda, bagaimana situasi saat hujan dan panas, berlantai tanah, belum lagi saaat atap bocor, digigit serangga-serangga. Ini baru mendengar saja, batin kok rasanya sudah guncang sekali. 

 

 

Belum lagi, baru-baru ini kawan-kawan Kristen bersama dengan kawan-kawan dari agama lain diajak mengikuti musyawarah dengan pejabat-pejabat pimpinan daerah membahas dan menandatangani komitmen menyangkut perdamaian antar kelompok. Terdapat 4 point dalam komitmen tersebut. 3 point sih terlihat aman-aman saja. Tapi yang paling mengganggu itu adalah salah satu point yang secara substansi berisikan larangan bagi kawan-kawan Kristen untuk mendirikan gereja. Kawan-kawan Kristen seperti tidak punya pilihan. Seperti biasa, yang sedikit harus ngalah sama yang rame.

Berdasarkan berbagai pengalaman dan bacaan, kelakuan-kelakuan lucu begitu hanya mampu dilakukan oleh dua jenis manusia. Yang pertama para elit yang mendapat keuntungan baik secara ekonomi dan politik dari keberadaan konflik tersebut; misalnya saja dengan adanya konflik agama yang sengaja diciptakan lalu dipelihara sehingga saat pemilu jadi mudah mengkonsolidasikan kekuatan politik yang didasarkan pada sentimen agama dan ini adalah cara yang pling sering ampuh, atau jadi rutinnya kucuran dana di pemerintahan dan berbagai lembaga atas nama “penanganan konflik”. Pihak kedua adalah orang-orang yang hidupnya kurang bahagia, kurang tenang, kurang damai, merasa insecure t
erus, imannya tipis, tapi bawa-bawa agama. Menggunakan dalih melindungi agama sendiri dengan cara mengganggu agama orang. Cuma orang kurang bahagia dan pada saat yang sama kurang yakin dengan keimanannya sendiri kan yang mampu begitu? Orang-orang bahagia, penuh kasih dan mampu berkeyakinan dengan damai dan tenang seperti saya kan sulit diprovokasi membenci dan mengganggu orang.

Saya menikmati diskusi dengan Pak Boaz, salah satu tokoh Kristen yang paling berpengaruh. Beliau berwatak humoris. Meski di saat yang sama beliau menceritakan tentang kemirisan situasi beragama di Singkil, beliau masih mampu menceritakan situasi-situasi tersebut dengan cara yang membuat kami mau tidak mau harus tertawa. Tentu tidak semua orang mampu mencapai situasi mampu tertawa dalam situsi sulit. Saat beliau menceritakan bahwa sangat sering mereka tidak bisa melakukan ibadah misa natal di malam hari seperti yang seharusnya, sehingga mereka harus melakukannya di sore bahkan siang hari. Atau ibadah minggu yang terkadang waktunya harus disesuaikan agar tidak berpapasan dengan waktu azan dan shalat, beliau masih bisa menimpali dengan, “ya tidak apa-apa lang, Bang, Kak. Kami fleksibel aja, toh Tuhan kami juga kebetulan stand by kok mau pagi siang sore atau malam”. Atau saat di akhir pembicaraan beliau menyampaikan, “apa lagi yang harus kami lakukan ya agar situasi kami lebih baik lagi dari ini”. Salah seorang panitia menimpali dengan isengnya, “banyak-banyak berdoa, Pak”. Pak Boaz spontan menjawab, “Doa kami sepertinya lebih banyak nyangkut di pohon sawit ini, Pak. Bagaimana ya?”. Sambungnya, “Kami ini memang harus terus memperbanyak sabar. Kalau orang melempari kami batu, kalu bisa kami balas melemparinya pakai pisang. Tuhan kami suruhnya begitu, cinta kasih”.

Setelah berdialog, kami diajak untuk melihat-lihat situasi ibadah misa malam Natal. Ya, esok hari Natal. Dan jelas, situasi ini bukan kebetulan ya. Memang sengaja diatur oleh panitia.  Kami mengunjungi lokasi terdekat. Ah, mereka memang tidak bercanda. Mereka benar-benar beribadah di tenda. 

 

Dan yang unik dari salah satu situasi yang kami amati adalah, di sekitar gereja terdapat para pedagang makanan dan minuman yang sengaja menggelar dagangannya pada situasi natal, dan para pedagang tersebut adalah orang-orang Islam. Meski Singkil terasa mencekam dalam konteks tertentu, terasa damai sekali melihat pemandangan yang demikian. Bahwa di tingkat tertentu atau dalam kondisi tertentu, masyarakat tetap bisa berdampingan dan  tidak ada yang mempermasalahkan urusan agama. Ini tentu dapat menjadi modal penting untuk praktik kerukunan yang lebih luas.

Keesokan harinya, kami berkunjung ke berbagai gereja, tepat di hari Natal. Saya tidak ingat pasti, tapi yang jelas tidak kurang dari 7 gereja yang kami datangi. Dan yang harus dipastikan, bayangan tentang gereja ini bukan seperti gereja pada umumnya sebagai tempat ibadah yang layak. Gereja ini berlaskan tanah, ukurannya kecil, beratapkan terpal plastik atau atap rumbia, tempat duduk dari kayu-kayu seadanya, tidak berdinding. Jangan tanya apakah bisa menampung seluruh jemaat atau tidak, jelas tidak. Dan yang agak membuat pilu, gereja-gereja tenda ini didirikan di sekitar gereja-gereja yang telah dirobohkan dan dibongkar. Ini justru informasi yang baru saya ketahui. Ternyata, setelah kejadian pembakaran gereja 2015 lalu, ada tindak lanjut dengan pembongkaran sekitar 12 gereja lagi. Sebagian bekas pondasi dan puing-puing sisa pembongkaran masi tergeletak di sana. Jangan ditanya lagi bagaimana situasi perasaan saat melihat itu. Kami juga mendatangi lokasi gereja yang dibakar. Itu lokasi yang pertama kami datangi. Tapi ternyata itu bukan satu-satunya gereja yang saya kira akan membuat saya merasa miris. Benar, bahwa kita sebenarnya bisa beribadah kapan dan dimana saja. Tuhan ada di semua ruang dan waktu. Tidak hanya di tempat-tempat ibadah. Namun saya rasa, siapapun yang masih punya keterikatan dengan tempat ibadah akan merasakan pilu yang sama seperti dirasakan oleh kawan-kawan Singkil. 

 

Bekas rangka bangunan gereja yang dibakar

 
gereja tenda lainnya, gereja yang telah dihancurkan di sampingnya dan kondisi yang tengah hujan deras :(


puing-puing bekas gereja yang telah dihncurkan di lokasi lainnya

Selepas kegiatan kunjungan gereja, panitia mengatur pertemuan dengan para anak muda Kristen generasi millenial untuk berbagi pengetahuan dan strategi menyangkut counter Narasi dan kampanye. Sederhananya, ini adalah tindak lanjut dan pengimbasan dari apa yang kami peroleh di Medan. Saya sempat gugup. Ini pengalaman pertama saya. Dan saya tidak tau, seberapa pelik situasi Singkil akan berdampak pada penerimaan kawan-kawan terhadap kami. Di luar dugaan, para pemuda terus berdatangan sehingga jumlahny terlalu ramai jika dibandingkan dengn perkiraan awal saya. Saya senang, tapi jelas tambah gugup. Saya dan beberapa kawan mau tidak mau harus menjalankan misi seperti arahan panitia. Memang, di awal-awal kami harus menghadapi berbagai pertanyaan sebagai konfirmasi niat baik kami. Kami siapa, darimana, datang dengan tujuan apa, ini program yang membawa keuntungan lembaga/personal kah, dsb. Juga respon-respon lain yang kami peroleh saat mengajak kawan-kawan untuk mau bersama-sama mengembangkan narasi damai seperti, “sangat sulit bagi kami berbaur dengan kawn-kawan Islam saat ada narasi bahwa non-muslim itu kafir. Dan bahkan saat kami ingin melakukan kegiatan seperti penggalangan dana untuk muslim, kami takut kami dicurigai dan tidak dipercaya seperti niatan baik kami”. Saya bisa merasakan secara langsung betapa situasi pelik di Singkil telah berdampak pada psikis dan perspektif kawan-kawan. Rasa takut, cemas, insecure, curiga, dsb. Saya terkejut, namun tidak heran. Dan mungkin ini PR yang paling sulit diantara semua hal: menyembuhkan dan menata ulang psikologi sosial. Karena konflik bisa saja suatu saat selesai, hilang dan padam. Namun dampak psikologi yang dihasilkan butuh pemulihan yang tidak sebentar.

 

Komentar

Postingan Populer