Freedom Writers of MINE !!
![]() |
Kelas kami tengah belajar tentang materi Sosiologi: Community Empowerment. Dan kami punya project: komunitas kelas dijadikan bahan uji coba untuk dikuatkan terutama karena tengah dalam kondisi konflik internal yang cukup parah.
Saya menginisiasi aktivitas ini juga karena terinspirasi dari film Freedom Writers yang sangat populer itu. Film yang diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang guru di wilayah New Port Beach, Amerika Serikat yang harus mengajar di kelas dimana para siswa berada pada tingkat ketegangan konflik tingkat tinggi karena persoalan Rasisme di struktur sosial masyarakat merembes ke dalam kelas. Siswa terkotak-kotak ke dalam ras dan geng yang saling membenci, bahkan kesalahpahaman kecil yang terjadi di dalam kelas bisa memicu perkelahian antar-ras. Bagaimana mengajar dalam kondisi konflik dan ketiadaaan interaksi layak sama sekali? Perjuangan Erin Gruwell akan membuat hati renyuh, namun juga membaja. Saya pun menguji diri saya, mampukah saya mengelola kelas seperti Erin? Kalau kelas ini saja tidak bisa saya kelola, saya harusnya tidak besar kepala bicara tentang membenahi masyarakat
Kelas ilmu sosial yang saya ampu saat ini juga tengah mengalami konflik internal, perpecahan antar-kelompok bahkan mempengaruhi pembelajaran menjadi tidak efektif. Ketika saya masuk ke materi Pemberdayaan Komunitas, saya sampaikan ke mereka, "Kalian adalah orang-orang yang nantinya akan bekerja di komunitas, bekerja untuk rakyat. Kalau kelas yang relasinya sudah seperti keluarga ini saja tidak mampu kita berdayakan dan kita selesaikan masalahnya, bagaimana kita bisa punya kepercayan diri bekerja apa lagi membenahi komunitas?".
Saya meminta mereka saling melakukan auto-kritik. Saya ingat sekali kata seorang pemateri saat mengikuti sekolah anti-korupsi: siswa harus dibiasakan untuk dikritik agar saat mereka dewasa mereka tidak menjadi seperti orang-orang dewasa dan pemerintah saat ini yang sangat lemah mental saat dikritik. Dalam project ini, kesiapan untuk mengkritik dan dikritik menjadi bagian dari harga diri. Sebagian besar dari mereka sangat lega karena telah berhasil berjuang menyampaikan segala sakit, marah, kekecewaan dan kesedihan yang telah mereka simpan selama berbulan bahkan bertahun, sehingga mempengaruhi cara mereka berinteraksi dan relasi mereka terhadap yang lain. Mereka saling melakukan rekonsiliasi secara relasi dan psikologi. Saya beruntung, mereka punya semangat tinggi untuk kegiatan ini, seolah mereka pun butuh. Mereka bahkan saling memotivasi dan mengingatkan satu sama lain.
Sayangnya waktu di sekolah tidak cukup. Jadinya kami memindahkan kelas ke daerah tepi pantai..





Komentar
Posting Komentar