Menyerbu RUU PKS di Diskusi KBI Aceh
Saat itu tengah heboh sekali soal pro-kontra RUU PKS (Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual). RUU itu secara prinsip sangat dibutuhkan mengingat angka kekerasan seksual di Indonesia sangat tinggi, yang terdata oleh angka malah tak seberapa dibanding jumlah yang tidak terlaporkan karena ia ibarat fenomena gunung es. Juga, lebih dari itu, kebudayaan kita bahkan menganggap banyak tindakan kekerasan seksual merupakan tindakan biasa.
Namun sialnya RUU ini menuai banyak kontra karena dibenturkan dengan isu syariat Islam. Ada tindakan-tindakan yang dikategotikan kekerasan seksual dan pidana oleh RUU PKS namun oleh sebagian pihak (brengsek, patriarkal, zalim) dianggap hal yang dianggap boleh oleh Islam.
KBI (Komunitas Bela Indonesia) pun ikut menggelar diskusi menyangkut hal ini. Dari namanya aja, genre nya jelas yak. Jadinya tema diskusi soal RUU PKS ini juga dianalisa dalam konteks Pancasila dan Nasionalisme. Liat aja judulnya: RUU PKS melawan nilai-nilai Pancasila, benarkah?
Ya oke juga tuh dilihat dari kacamata itu. Be like: lu mo agamanya apa kek, however lu idup nya di Indonesia. Seneng ga seneng, aturan based on Pancasila yang matter di sini. Ga bisa lu gede-gede amat mau aturan agama lu doank yanh di denger di sini. Apa lagi kalo pandangan lu soal agama lu, kacau pula, trus lu paksa jadi kebijakan publik yang rentan untuk buat orang ketindas pula, ya kan.
Aku diminta untuk jadi salah satu pembicara menyangkut analisa gender dan bagaimana melihat kasus kekerasan seksual selama ini secara sosiologis. Tentu aspek hukum penting, tapi aku ngasi penjelasan soal bagaimana kekerasan seksual ini bekerja dalam kebudayaan, mental sosial dan struktur sosial kita. Yang kalau ini ga diatasi, akar masalah kekerasan seksual ini ga akan teratasi. Walau kedoknya pancasila, diskusi ini juga dihadiri Kak Samsidar sebagai pembicara yang merupakan perwakilan Komnas Perempuan. Dia menguasai sampe ke titik komanya urusan isi RUU PKS ini. Makanya begitu ada peserta yang salah-salah ngomong, ngomong hoax-hoax ga jelas, langsung dibantai sama Kak Idar. Lebih seru lagi, diskusi ini juga dihadiri oleh pihak-pihak yang kontra yang menentang RUU PKS ini tapi kita juga menghadirkan ustadzah-ustadzah progresif yang ketika pihak kontra bawa-bawa narasi agama untuk perspektif patriarkal mereka, ada ustadzah-ustadzah ini yang meng-counter dengan sejumlah ayat, hadis, ijtima' dan narasi humanis yang nunjukin: woy, islam itu ga sebrengsek itu, ngaji lu kurang tinggi. Haha..


Komentar
Posting Komentar