Uji Narasi Adat Berdaulat Melawan Kapitalisme
Ikut
nyelip di agenda Penguatan Lembaga adat terhadap Imum Mukim dan
petua-petua adat yang diselenggarakan Majelis Adat Aceh Barat Daya menyangkut narasi Adat
Berdaulat melawan Kapitalisme.
Praktek
atas adat dan nilai-nilai lokal ternyata terkait erat dengan sentimen
masyarakat terhadap tanah, air dan SDA di wilayahnya. Sehingga tidak
sedikit dari masyarakat adat yang mampu melakukan perlawanan radikal
atas dasar idiologi berbasis nilai adat dan spiritual. Bahkan mampu
menciptakan sistem sosial dan pemerintahan sendiri berbasis
kolektivisme, solidaritas, pengelolaan SDA untuk kesejahteraan bersama,
penguasaan penuh atas tanah-air.
Apa
lagi di Aceh, petua-petua adat diberikan legitimasi formal untuk
menguasai dan mengelola wilayah dan harta bersama untuk kepentingan
rakyat.
Bagi
kawan-kawan yang ga yakin apa lagi ga pernah tau tentang itu, yang
menganggap itu cuma ide yang ada di dalam buku (belum menjadi praktek
nyata) mungkin sesekali harus piknik ke Sumatra Barat, Ciptagelar,
beberapa mukim di Aceh atau paling ga tonton aja video-videonya Watchdoc Ekspedisi Indonesia Biru.
Jadi,
nilai dan praktik perlawanan ga harus selalu ngambil punya masyarakat
luar: Eropa, dsb. Karena kondisi dan nilai masyarakat kita beda jauh
dengan yang di sana. Apa lagi tidak semua jenis masyarakat merupakan
masyarakat industri.
Di
Abdya, saat ini rakyat dan pemerintah sedang melakukan perlawanan untuk
menolak perpanjanggan HGU PT Cemerlang Abadi yang telah menelantarkan
ribuan hektar tanah selama 30 tahun dan meminta agar tanah tersebut dikembalikan pada rakyat lalu dijadikan sawah untuk rakyat miskin di Abdya.
Imum
Mukim Babahrot di wilayah PT CA merupakan salah satu pihak yang paling
gesit memimpin perlawanan. Dan kemarin, setelah agenda Penguatan Lembaga Adat, Petua Chiek
Prodeelat mengajak seluruh Imum Mukim Abdya untuk menyatakan sikap
Solidaritas untuk mendukung gerakan rakyat, pemerintah Abdya dan Pemerintah Aceh untuk mengembalikan tanah yang dikuasai PT CA untuk
rakyat.
Cukup
haru saat Imum Mukim Babahrot menyatakan ucapan terimakasih atas
solidaritas Imum Mukim lain. Dan mendengar teriakan para Imum Mukim,
"hidup rakyat!"
Pengalaman
ini penting sekali bagi saya untuk pembelajaran terhadap para siswa.
Seperti dalam materi Sistem Politik di mata pelajaran PKn dan Materi Kearifan
Lokal di mapel Sosiologi. Partisipasi politik dapat diambil melalui
praktik dan sentimen yang ada di dekat mereka. Belajar kearifan lokal
bukan belajar sekedar ritual, seni, produk lokal. Namun dapat diarahkan
pada narasi dan praktek Adat Berdaulat, dan membawa siswa mengamati
Mukim-mukim yang berlawan di Aceh.
Bahkan memasukkannya ke dalam
soal-soal UASBN.






Komentar
Posting Komentar