Saya dan Siswa: SALING BELAJAR

















 
 
Terharu sampe mewek itu, adalah ketika ngasi soal ujian akhir semester pelajaran Sosiologi dimana siswa diminta menganalisa dan mengidentifikasi:
  1. Apa saja masalah-masalah sosial krusial di Aceh, serta solusi kongkrit utk masalah-masalah tsb; 
  2. Mengapa meski pembangunan dan pemberdayaan telah berjalan selama puluhan tahun namun masalah-masalah yang ada belum teratasi dengan signifikan; dan 
  3. Mengapa anggota masyarakat yang berpendidikan tinggi sekalipun tidak memiliki kapasitas untuk memahami masalah-masalah sosial krusial yang ada, tidak memiliki orientasi untuk peduli dan melakukan transformasi sosial secara sistemik dan massif?

Dan para siswa dengan sangat panjang lebar mampu mendeskripsikan masalah-masalah krusial seperti diskriminasi sosial dan kesenjangan ekonomi di Aceh, mengurai masalah-masalah kemiskinan, perampasan lahan, akses dan kualitas pendidikan dan kesehatan yang bermasalah dengan deep analysis, bahkan adanya diskriminasi ekonomi berbasis agama dimana di satu daerah tertentu pemberian bantuan terhadap rakyat miskin disyaratkan harus beragama Islam, penguraian kasus DOM aceh bahkan dampaknya hingga taraf ekonomi dan mental, pembukaan industri sawit di daerah aceh barat yang merusak kehidupan warga dan satwa, rakyat kecil yang sering dirugikan oleh kebijakan yang membuat mereka harus kehilangan satu-satunya mata pencaharian mereka, masalah energi listrik yang menyebabkan pemadaman saban hari; dsb
Masalah-masalah sosial belum teratasi, bagi mereka, diantaranya disebabkan oknum-oknum pemerintahan yang melakukan korupsi dan upaya pembangunan/pemberdayaan dilakukan bukan untuk membantu menghilangkan kesenjangan masyarakat namun justru dijadikan proyek sebagai ladang keuntungan bagi mereka; kurangnya kehendak politik yang kuat untuk mengatasi masalah; apatisme publik dan pembangunan yang hanya berfokus pada wilayah tertentu. Lebih kritis lagi, siswa menjabarkan betapa pembangunan yang ada hanya berorientasi industri yang justru menimbukan masalah-masalah dan penderitaan baru bagi rakyat.

Orang-orang berpendidikan tinggi kebanyakan justru sudah berwatak individualis, mereka hanya dicecoki teori, bahkan tidak sedikit dari orang2 berpendidikan tinggi yang justru menjadi pemicu konflik utk kepentingan mereka sendiri; bobroknya sistem pendidikan kita yang hanya berorientasi nilai. Sebagian dari siswa menyatakan bahwa bukannya tidak ada masyarakat yang berusaha mengatasi masalah mereka, melakukan perlawanan dan menuntut hak, namun tidak mudah krn pemerintah abai; juga mereka yang memiliki gebrakan-gebrakan namun dihambat oleh sistem.

Saya banyak belajar dari apa yang mereka paparkan. Beginilah pendidikan: SALING BELAJAR.
Saya tidak bisa memastikan, mereka akan jadi orang-orang hebat di kemudian hari. Namun saya menaruh harapan besar terhadap mereka untuk menjadi orang-orang dengan kualitas kemanusiaan yang lebih baik.

Seorang siswa memberi pesan di akhir kertas ujiannya:
"Everyone lets get the justice, because Indonesia is not you or me, Indonesia is us"  



Komentar

Postingan Populer