Perlawanan Rakyat di Tanah Aceh
Kemarin saya menyempatkan diri untuk mengikuti diskusi di Ruang Studi Jamaah (RSJ)nya Komunitas Kanot Bu (KKB) tentang "Perampasan Lahan".
Acara dimulai dengan agenda nonton bareng "The Mahuze" karya Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz tentang koflik lahan di Papua, dan diselingi oleh performa seni musik oleh Fuadi S Keulayu. Hal yang paling saya suka dari KKB ini, seni-seni yang dihadirkan bernuansa realitas dan kritik sosial. Saya lumayan mendidih ketika kemarin mendengar Fuadi dan peserta lain menyanyikan lirik-lirik yang membuat kita paham bahwa tanah-tanah rakyat di nanggroe aceh ini juga sudah banyak yang dirampas dan menikmatinya adalah 'orang luar' dan rasanya ingin melawan.
Diskusi dibuka oleh Hafidh Polem dan dipandu oleh Muhajir. Serta Landak Aulianda Wafisa dari LBH Aceh yang juga merupakan sekjend SMUR sebagai pembicara utama.
Satu catatan penting oleh saya dari diskusi ini adalah ketika saya bertanya, "Apakah jenis perlawanan rakyat yang idiologis seperti di Kendeng, Mahuze, dll atas segala kasus perampasan lahan dan SDA di Aceh ini tidak ada? Mengapa ketika bicara perlawanan rakyat atas SDA, kita hanya dapat memberikan contoh di luar aceh? Seolah-olah di Aceh ini tidak ada, atau saya yang mungkin tidak tau? Yang terlihat selama ini hanyalah perlawanan elitis dan eksklusif oleh LSM dan mahasiswa atau kelompok lainny yang mengatasnamakan rakyat bahkan, tapi bukan perlawanan rakyat. Dan mengapa orang-orang menyatakan bahwa untuk kasus Aceh, jika terdapat konflik tanah dan SDA, selalu diselesaikan secara adat (makna adat yang bias) dimana rakyat seolah pasrah dan tidak melawan. Atau jikapun ketika rakyat melawan, dasarnya hanya karena kompensasi yang tidak seimbang, bukan karena faktor ideologis atau ikatan pada tanah-air?"
Landak kemudian secara terbuka menyatakan bahwa memang ada aksi-aksi rakyat yang ditunggangi atau karena kompensasi. Namun di Aceh terdapat banyak perlawanan rakyat, baik di Aceh Barat, Singkil, Tamiang, Aceh Timur (Landak menjelaskan secara rinci) dimana rakyat berjuang bertahun-tahub, masuk penjara berkali-kali atas dasar ikatan pada tanah air, tidak terima tanahnya dirampas, mereka tidak kompromi bahkan mengorbankan nyawa. Hanya saja tidak tereskpos. Media di Aceh ini bersekongkol dengan pemerintah dan korporasi untuk itu agar perlawanan rakyat itu tidak terlihat.
Ironisnya adalah LSM dan kelompok masyarakat yang selama ini berjuang atas nama rakyat, melakukan advokasi hanyalah sebatas program sehingga rakyat merasa dibohongi; dan yang berjuang atas nama rakyat namun tidak melibatkan rakyat itu sendiri, menganggap rakyat itu bodoh, tidak berdaya, tidak punya kekuatan. Bahkan meski beranggapan demikian, juga tidak mencerdaskan, tidak mengorganisir secara serius.
Hufft..untung kemarin bang Gem datang dengan seduhan kopi Arabika nya. Meski pahit, tapi setidaknya tak sepahit nasib rakyat yang dirampas lahannya...




Komentar
Posting Komentar