Pembelajaran tentang Agama dan Kekuasaan
Aktivitas siswa lainnya dalam Bab Kelompok Sosial adalah ketika pada waktu sebelumnya, siswa diminta melakukan presentasi secara berkelompok mengenai jenis-jenis kelompok sosial yang ada di Indonesia dengan berbagai jenis latar belakangnya (agama, profesi, komunitas, politik, kekerabatan, dsb). Siswa yang menganalisa kelompok sosial berbasis agama memilih Muhammadiyah sebagai objek kajian. Dan ketika forum diskusi dibuka, situasipun menjadi panas karena ternyata ada cara pandang sempit tentang Muhammadiyah akibat pe-label-an yang selama ini merebak di masyarakat.
Saya tidak ingin siswa-siswa saya menjadi sembarangan menjustifikasi suatu kelompok hanya karena 'dengar kata orang'. Yah, kita-kita ini kan kadang begitu. Bodo amat dengan sejarah, bodo amat dengan pengetahuan objektif, pokoknya apa kata orang banyak deh.
Lantas saya menanyakan pada mereka, "Kalian belum pernah nonton film Sang Pencerah, ya?". Karena tau akan ada potensi aktivitas kesukaan mereka yakni menonton film dan kebetulan mereka emang pada belom nonton, mereka dengan kompak menjawab "Belom, buk"!
Minggu depannya, kami menonton film Sang Pencerah. Siswa diminta memperhatikan dengan seksama untuk dapat didiskusikan secara kritis pada pertemuan berikutnya.
Saya sendiri hampir lupa dengan isinya secara menyeluruh karena terakhir kali menontonnya sudah sangat lama. Awalnya saya hanya ingin menunjukkan sejarah Muhammadiyah, dinamika yang mereka hadapi dan perspektif pendiri mereka mengenai Islam.
Saya hanya masih ingat adegan-adegan dimana K.H. Ahmad Dahlan di film itu mengkritik praktik agama ala feodalisme, fanatisme, tidak adaptif dengan kondisi sosial masyarakat, serta pratik agama yang tidak toleran.
Setelah saya tonton ulang bersama para siswa ini, ternyata memang ada banyak hal dalam film ini yang berkaitan dengan kajian sosiologi. Bukan hanya tentang kelompok sosial dan dinamikanya, tapi juga mengenai agama dan masyarakat, agama dan kekuasaan, nilai-nilai sosial dan agama, saling hubungan antara masyarakat dan keluarga, pentingnya perkumpulan dan berjejaring untuk mewujudkan gagasan-gagasan progresif, dan lain-lain.
Ketika berdiskusi, saya senang bahwa siswa mendapati hal-hal esensi yang saya ingin mereka menangkapnya. Termasuk ketika siswa-siswa mengkritik praktik agama yang mengabdi pada kepentingan penguasa, juga tentang praktik-praktik agama yang intoleran, serta yang terpenting purbasangka mereka terhadap muhammadiyah memudar.
Tapi ngomong-ngomong, di foto tentang shalat Ied Adha kemarin yang diikuti oleh para elit dan politisi Aceh, kok masih ada pengkhususan-pengkhususan posisi dalam shalat berdasarkan status sosial seperti zaman dahulu kala yang terdapat di film itu? Aduh, kalau siswa-siswa saya liat, saya harus bilang apa?? Ternyata kita belum banyak berubah.. Hiks..



Komentar
Posting Komentar