ESBE
His essential words to me...
(1)
Duhai bansi hati ku, engkau bertiup sayup dalam senandung pengusir
lara.
Dari senyapnya gurauan dedaunan ribuan raksa belantara semesta,
engkau sapa jiwa ku yang lama mati.
Nada mu elok beralunan,
memalingkan gairah jiwaku dari siulan Balam dan nyanyian burung rimba tiada bersusunan makna.
Duhai kasih ku,
lantunan mu sejuk,
engkau dihantar angin gunung bersama
taburan serbuk harum wewangian dipetik dari taman bunga firdausi,
menghentikan gelombang suara seluruh para biduan di istana golestan
persia.
Kini aku hidup dari gubahan irama jiwa mu.
Kau
getarkan lagi hasrat ku dari kelumpuhan menahun.
Kini ia menumbuh dalam
belaian lentik jari mu merangkai suara hati, menyihir jiwa ku, duhai
kekasih ku.
Tehran, 13 Sep 2016
(2)
Tak ku temukan melati,
di taman bunga esfahan.
Hati ku menatap ratapan sepi,
Hati ku menatap ratapan sepi,
Rindu ku tanggung, jiwa ku terguncang.
Wahai senja penyimpan cerita seribu dera,
Dapatkah kau tahan gundah ku dalam peluk mu.
Biar sahara yg terbentang memanjang di kota tua itu tidak membunuh ku dengan rindu, menghujam terlalu dalam.
Di sudut taman ini ku hitung hari,
Musim semi tak dapat lagi merayu ku.
Meski separuh kaki trasa tertanam lumpur sudah,
Meski separuh kaki trasa tertanam lumpur sudah,
Jiwa ku terbang menyapa mu saban waktu, kekasih ku.
(Qom, menyambut musim gugur, 27 sep 2016)
(3)
Pagi ini ku tanya illawara,
Di sudut simpang tiga pohon berusia renta.
Seribu tahun sudah kau alami musim semi,
Seribu tahun sudah kau alami musim semi,
Pernahkah kau gundah ditinggal pergi, putik bunga muda nanti menua, tubuh mu kelak tak lagi wangi.
Segundah hati ku, yang kini hendak menahan waktu.
Hari semi harap ku abadi, dapatkah ia tak lagi berganti.
Oleh siksanya malam penghapus mimpi.
Oleh siksanya malam penghapus mimpi.
Oleh kejamnya siang penjara sepi.
Oh...gulanaaa...,
Langkah ku tak setegap dulu.
Lutut ku mulai bergetar.
Jiwa ku mulai tertawan.
Lutut ku mulai bergetar.
Jiwa ku mulai tertawan.
Jauh ku baru trasa terbuang.
Duh, illawara, apalah arti puja puji ku,
Bagilah damai tenangnya batin mu.
Berkatilah hidup ku dengan setangkai bunga mu.
Berkatilah hidup ku dengan setangkai bunga mu.
Hendak kuselipkan ia penghias telinga kekasih ku, agar manja jiwanya tak pernah berpaling dari ku.
(Qom, awal musim gugur, 29 sep 2016)
(4)
Tak lagi ingin ku dengar dendang para pujangga,
Arak cinta tlah melumpuhkan jiwa.
Pada gelas ku kau tuangkan tiada henti,
Ku teguk tiada kira dalam kerumunan pemabuk penyiksa diri.
Lenyaplah akal ku,
Sejak kau terbangkan ruh kita ke singgasana ritual suci.
Di arasy langit di kedalaman hati,
Tiada kau sisa, untuk mu walau sebutir debu.
Kau sajikan segala, demi ku kau serahkan diri.
Dengan apa lalu nafas kau titip ku tebus kelak?
Tentu dengan darah ku jua, wahai belahan hati.
Tak sepenggal zarrah benak ku tergoda ragu.
Kan ku jaga, kau bersemayam tahta abadi kalbu teduh ku.
Sayang ku, tuan putri ku liatlah ke sana.
Di 'dunia kita' api unggun tlah menyala riang gembira.
Menanti kita bersorak ria mengitarinya.
Sambutlah tangan ku, mulailah berdansa.
Fana kan jiwa kita, tenggelam-satukan tubuh kita,
Dalam gulitanya malam kita sirna, terlalu mabuk untuk dapat merasa.
Arak cinta tlah melumpuhkan jiwa.
Pada gelas ku kau tuangkan tiada henti,
Ku teguk tiada kira dalam kerumunan pemabuk penyiksa diri.
Lenyaplah akal ku,
Sejak kau terbangkan ruh kita ke singgasana ritual suci.
Di arasy langit di kedalaman hati,
Tiada kau sisa, untuk mu walau sebutir debu.
Kau sajikan segala, demi ku kau serahkan diri.
Dengan apa lalu nafas kau titip ku tebus kelak?
Tentu dengan darah ku jua, wahai belahan hati.
Tak sepenggal zarrah benak ku tergoda ragu.
Kan ku jaga, kau bersemayam tahta abadi kalbu teduh ku.
Sayang ku, tuan putri ku liatlah ke sana.
Di 'dunia kita' api unggun tlah menyala riang gembira.
Menanti kita bersorak ria mengitarinya.
Sambutlah tangan ku, mulailah berdansa.
Fana kan jiwa kita, tenggelam-satukan tubuh kita,
Dalam gulitanya malam kita sirna, terlalu mabuk untuk dapat merasa.
(Qom, dalam dinginnya malam di musim gugur bergerak melaju. Beberapa jam setelah ritual kita 2 oktober 2016)
(5)
Kau kata deru ombak pantai lhoknga terlalu berisik,
Di detik stelah pelukan kita terintipkan.
Kau ragu bisakah nyanyian merdu k8ta masih terdengar asik,
Pada menit stelsh ciuman kita disorak sorakan.
Duhai betapa rintih mu berat terasa,
Di kalbu kita yang sesak cinta.
Seakan alam brenti berikrar janji,
Ikatan kita teruji abadi.
Aku tertegun lama,
Sengsara keluh mu mengoyak bait-bait syair ku.
Ke tanah ku bersimpuh di malam gulita,
Membujuk rayu mengusir hantu derita hari esok mu.
Tiap kali ku lalaikan hati ku dengan rindu,
Tiap waktu ku hitung embun penenang jiwa.
Tak pula gundah mu beranjak pergi,
Rontih suara mu merobek kembali luka-luka lama.
Bila pun mereka menatap sinis,
Kita tlah hilang dalam teduhnya semilir pembelai serbuk wewangian taman bunga.
Di detik stelah pelukan kita terintipkan.
Kau ragu bisakah nyanyian merdu k8ta masih terdengar asik,
Pada menit stelsh ciuman kita disorak sorakan.
Duhai betapa rintih mu berat terasa,
Di kalbu kita yang sesak cinta.
Seakan alam brenti berikrar janji,
Ikatan kita teruji abadi.
Aku tertegun lama,
Sengsara keluh mu mengoyak bait-bait syair ku.
Ke tanah ku bersimpuh di malam gulita,
Membujuk rayu mengusir hantu derita hari esok mu.
Tiap kali ku lalaikan hati ku dengan rindu,
Tiap waktu ku hitung embun penenang jiwa.
Tak pula gundah mu beranjak pergi,
Rontih suara mu merobek kembali luka-luka lama.
Bila pun mereka menatap sinis,
Kita tlah hilang dalam teduhnya semilir pembelai serbuk wewangian taman bunga.
(Qom, menjelang musim dingin, 22 okt 2016)
(6)
Ku layangkan surat ini menemui mu yang diserbu rindu....
Gerak serempak lentik jari tarian sufi hari asyura, menggerus angin bertiup lembut menerpa wajah ku yang tiada gairah akibat rindu, terlalu rindu. Ku pejamkan mata agar terasa belaian itu datang dari hangat lembut tangan mu, oh cinta yang ku puja.
Dalam keramaian kota, mengitari haram sayyidah maksumah yang terkepung ribuan para penziarah, mereka para pencinta perlawanan, orang-orang yang meratapi pembantaian keluarga nabi, sebuah tragedi yang sudah ditangisi dalam majlis-majlis duka lebih seribu tahun lalu. Tragedi dimana Husein cucu terkasih muhammad bersama tujuh puluh pengikutnya disembelih di padang karbala karena hendak menumbangkan rezim tiran. Lalu para perempuan dan anak-anak dari keluarga muhammad dirantai sebagai tawanan dan digiring berjalan delapan puluh kilo menuju istana gubernur kufah, berjalan kaki dalam keadaan haus dan terhina.
Di tepi jalan aku termangu, meratap tiada kendali, tubuh ku tergoncang sesugukan, spirit revolusi ku terbakar. Mata ku basah kuyup menangis berjam-jam. Aku seperti kehabisan tenaga.
Dalam pengalaman spiritual itu aku megingat mu, kekasih ku. Aku mengingat mu bukan cuma karena aku terlalu rindu, juga karena engkau telah menyatu dalam tekad perlawanan ku. Engkau akan mendampingi ku saban waktu, pada setiap detiknya nafas kita bersambung dengan massa rakyat pemberani yang dipinggirkan kaum tiran di tanah kita.
Sayang, engkau dan aku tau, asyura bukan masa lalu. Pembantaian serupa terjadi atas rakyat kita hari ini di serantauan negeri-negeri melayu. Karbala jg bukan cuma di Irak. Kezaliman serupa, pembunuhan dan penggusuran dilakukan di negeri kita. Kita merasakan kesedihan Husein putra fatimah zahra karena kita hadir dalam pengalaman yang serupa bersama rakyat kita yang perasaannya dilukai dan hak-hak mereka dirampas di depan mata.
Belahan jiwaku, engkau yang telah menguasai pikiran dan hati ku, kini tlah bersumpah setia pada perjalanan kita yang mungkin terjal, bebatuan dan karang akan melukai kita. Para tiran tidak hanya bertepuk dada untuk melukai perasaan kita, mereka juga mengarahkan ujung senjatanya untuk melukai tubuh kita. Aku kuat, pantang melangkah surut, karena kau pegang tangan ku, karena kau akan berdiri samping ku.
Saat ini tiada yang lebih ku pukirkan, selain menemui mu.
Gerak serempak lentik jari tarian sufi hari asyura, menggerus angin bertiup lembut menerpa wajah ku yang tiada gairah akibat rindu, terlalu rindu. Ku pejamkan mata agar terasa belaian itu datang dari hangat lembut tangan mu, oh cinta yang ku puja.
Dalam keramaian kota, mengitari haram sayyidah maksumah yang terkepung ribuan para penziarah, mereka para pencinta perlawanan, orang-orang yang meratapi pembantaian keluarga nabi, sebuah tragedi yang sudah ditangisi dalam majlis-majlis duka lebih seribu tahun lalu. Tragedi dimana Husein cucu terkasih muhammad bersama tujuh puluh pengikutnya disembelih di padang karbala karena hendak menumbangkan rezim tiran. Lalu para perempuan dan anak-anak dari keluarga muhammad dirantai sebagai tawanan dan digiring berjalan delapan puluh kilo menuju istana gubernur kufah, berjalan kaki dalam keadaan haus dan terhina.
Di tepi jalan aku termangu, meratap tiada kendali, tubuh ku tergoncang sesugukan, spirit revolusi ku terbakar. Mata ku basah kuyup menangis berjam-jam. Aku seperti kehabisan tenaga.
Dalam pengalaman spiritual itu aku megingat mu, kekasih ku. Aku mengingat mu bukan cuma karena aku terlalu rindu, juga karena engkau telah menyatu dalam tekad perlawanan ku. Engkau akan mendampingi ku saban waktu, pada setiap detiknya nafas kita bersambung dengan massa rakyat pemberani yang dipinggirkan kaum tiran di tanah kita.
Sayang, engkau dan aku tau, asyura bukan masa lalu. Pembantaian serupa terjadi atas rakyat kita hari ini di serantauan negeri-negeri melayu. Karbala jg bukan cuma di Irak. Kezaliman serupa, pembunuhan dan penggusuran dilakukan di negeri kita. Kita merasakan kesedihan Husein putra fatimah zahra karena kita hadir dalam pengalaman yang serupa bersama rakyat kita yang perasaannya dilukai dan hak-hak mereka dirampas di depan mata.
Belahan jiwaku, engkau yang telah menguasai pikiran dan hati ku, kini tlah bersumpah setia pada perjalanan kita yang mungkin terjal, bebatuan dan karang akan melukai kita. Para tiran tidak hanya bertepuk dada untuk melukai perasaan kita, mereka juga mengarahkan ujung senjatanya untuk melukai tubuh kita. Aku kuat, pantang melangkah surut, karena kau pegang tangan ku, karena kau akan berdiri samping ku.
Saat ini tiada yang lebih ku pukirkan, selain menemui mu.
Dari kekasih mu,
yang didera rindu.
Qom, 12 oktober 2016




Komentar
Posting Komentar