Hari Guru dan Penghargaan
Ini adalah Hari Guru keempat saya di SMA Laboratorium Unsyiah
tersayang ini. Hari Guru memang dirayakan dengan cukup meriah di sini. Di samping
terdapat acara seremonial, selebrasi, juga terdapat pemberian Award terhadap
para guru dengan kategori tertentu, semisal: Guru terfavorit, Guru Terdisiplin,
Guru Tersegani, Guru, Terunik, Guru
Termodis, Guru Terlucu, dsb. Di masa awal saya mengajar, saya tentu hanya
menjadi penonton. Karena harus saya akui, sekolah ini adalah sekolah dengan
guru terbaik yang pernah saya singgahi. Bukan hanya dalam hal penguasaan materi
dalam kategori expert di bidangnya, namun juga metode mengajar yang mampu
membuat siswa sangat senang mengikuti pembelajaran mereka serta idealisme dalam
penerapan nilai-nilai. Saya masih belum apa-apa.
Namun, dalam perayaan Hari Guru kali ini sungguh berbeda. Di
satu sisi, saya merasa kurang beruntung karena harus mengikuti pelatihan
tentang Pencegahan Radikalisme dan Terorisme yang berlangsung pada Hari Guru yang
membuat saya tidak dapat menjadi bagian dari Perayaan di sekolah. Namun pada
Hari yang bersangkutan saya ternyata memperoleh Award sebagai Guru Terdisiplin.
Konyolnya lagi, saya mengetahuinya justru beberapa minggu setelahnya (why there
are no people who tell me, hiks).
Saya jelas kaget, dalam hati senang namun merasa tidak habis
pikir. Saya mempertanyakan kapasitas kedisplinan saya. Banyak guru lain yang
jika saya amati sesungguhnya jauh lebih disiplin dari saya. Benar,bahwa saya cukup
tegas dalam pembelajaran. Namun jika dibandingkan dengan situasi dimana ada
kalanya saya tidak dapat sepenuhnya konsisten dengan peraturan yang saya buat
bahkan peraturan sekolah yang terpaksa saya langgar demi kepentingan
pembelajaran di kelas, rasanya saya merasa belum layak menerima award tersebut.
Semisal, terkadang saya terpaksa memperbolehkan siswa makan di dalam kelas dari
pada membiarkan mereka kelaparan atau resiko yang harus saya dapati mereka membolos
di kantin. Ada kalanya saya memenuhi permintaan siswa untuk mendengarkan musik
saat mengerjakan tugas mengingat hari yang sudah siang menjelang sore,
sedangkan mereka harus mengerjakan tugas dengan tingkat analisa yang lumayan
dalam keadaan yang sudah sangat bosan dan dengan kondisi sisa-sisa tenaga yang
nyaris drop. Atau, ketika dulu saya jauh lebih strict dibandingkan sekarang
dimana dulu ketika siswa terlambat mengumpulkan tugas, saya akan mengurangi
bobot nilai dalam jumlah yang tidak sedikit, tapi kini melihat betapa stres dan
kelelehannya para siswa akibat banyaknya tugas dan catatan yang harus mereka
selesaikan membuat saya tetap memberikan nilai maksimal sesuai kualitas
meskipun tugas tersebut terlambat dikumpulkan (namun saya juga sedang mencari
cara yang paling ampuh agar mereka dapat lebih disiplin sesuai dnegan kemampuan
mereka).
Yah, mau bagaimana lagi, saya bukan seorang proseduralis
ataupun pelaksana dengan pola administratif rigid. Saya selalu berusaha untuk
memperlakukan siswa sebagai manusia, bukan robot. Mencapai tujuan bukan hanya
dengan cara-cara yang pantas tapi juga menyenangkan. Kecuali pada saat
melaksanakan ujian misalnya, itu yang jangan coba-coba. Bentuk kebohongan dan
kecurangan adalah harga mati yang tidak dapat ditolerir.
Terima kasih, labs! Saya akan berusaha
memantaskan diri :)



Komentar
Posting Komentar