Bangsa yang Menikmati Penindasan
Dimuat di AJNN (Aceh Journal National Network), Kamis 24 Desember 2015
Selasa itu, pertengahan Desember lalu, anggota
KutaRaja Book Club berdiskusi. Di forum ini kami mencoba untuk memahami,
menganalisa dan mengkritisi dua tulisan. Yang pertama karya Benjamin Radcliff
berjudul A Happy State (mengapa (konsep) negara kesejahteraan
diserang ketika kebahagiaan dalam hal ekonomi menunjukkan bahwa itu adalah
sistem yang paling kondusif untuk kesejahteraan manusia). Kedua adalah tulisan
Andika Ramadhan Febriansah berjudul Kampus dan Lahirnya Para Pejuang Sosial.
Radcliff dalam tulisannya ingin menunjukkan bahwa
kebahagiaan warga negara pada dasarnya bukan hanya ditentukan oleh masalah
aspek psikologis semata. Kebahagiaan harus juga diraih dengan menjamin hak-hak
dasar, seperti urusan sosial, ekonomi, politik yang mampu menjamin kebutuhan-kebutuhan
dasar warga negara melalui konsep welfare state (negara kesejahteraan).
Benar, bahwa jika bicara mengenai makna kebahagiaan, kita akan jatuh pada perdebatan yang tidak akan ada habisnya. Pembicaraan ini membenturkan kita pada banyak sudut pandang. Dan benar, bahwa mengukur kebahagiaan tidak sama dengan mengukur tinggi badan. Namun esensi yang ingin disampaikan oleh Radcliff adalah negara yang lebih mampu menjamin hak-hak dan kebutuhan dasar warga negaranya; (sandang; pangan; papan; akses kesehatan dan pendidikan murah/gratis-berkualitas; dana sosial untuk pensiun dan pengangguran, adalah negara yang penduduknya jauh lebih bahagia atau lebih puas dibanding negara yang gagal dalam menyejahterakan rakyanya. Saya rasa, manusia paling awam pun memahami hal ini.
Benar, bahwa jika bicara mengenai makna kebahagiaan, kita akan jatuh pada perdebatan yang tidak akan ada habisnya. Pembicaraan ini membenturkan kita pada banyak sudut pandang. Dan benar, bahwa mengukur kebahagiaan tidak sama dengan mengukur tinggi badan. Namun esensi yang ingin disampaikan oleh Radcliff adalah negara yang lebih mampu menjamin hak-hak dan kebutuhan dasar warga negaranya; (sandang; pangan; papan; akses kesehatan dan pendidikan murah/gratis-berkualitas; dana sosial untuk pensiun dan pengangguran, adalah negara yang penduduknya jauh lebih bahagia atau lebih puas dibanding negara yang gagal dalam menyejahterakan rakyanya. Saya rasa, manusia paling awam pun memahami hal ini.
Dan semoga cara pandang kita tidak absurd dengan melihat wacana ini bahwa kebahagiaan tak
dapat diukur dengan materi. Karena yang tengah dibahas di sini adalah substansi basis
kehidupan: yang jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi jangankan bahagia. Kita
bahkan tidak mengetahui apakah besok masih bisa hidup layak sebagai manusia.
Basis kebutuhan dasar yang kita tuntut di sini bukanlah materi dari sudut
pandang hedonis, tapi sebagai aspek survival. Jika pun Anda mengatakan orang
Amerika dan Eropa yang kebutuhan dasar hidupnya terpenuhi saja masih belum
bahagia, maka orang-orang di negara miskin dan berkembang seperti Indonesia,
yang untuk makan saja sulit, harusnya melakukan bunuh diri massal sejak lama.
Tulisan Radcliff juga membantu membuka wawasan bahwa
negara-negara yang memiliki will politic (niatan atau keinginan secara politis)
yang cenderung lebih baik. Ketika negara belum mampu menjamin sekedar kebutuhan
sandang, pangan, papan, ini bukan bicara tentang ketidakmungkinan dan
ketidakmampuan. Persoalan ini lebih pada kemauan politik pemerintah dan kapasitas
rakyatnya dalam mengintervensi sistem ekonomi, sosial dan politik di negaranya;
di mana ada kemauan, di situ ada jalan.
Ketika kita telah memahami mengenai apa saja kebutuhan
dasar masyarakat, kita lantas mengetahui bahwa institusi yang memiliki kapasitas
dalam pendistribusian kebutuhan dasar tersebut (basis dasar sebagai penentu
aspek lain) adalah institusi ekonomi dan pasar. Yang menjadi permasalahan
kemudian adalah sistem kapitalis. Setiap pemodal adalah raja dan mereka yang
miskin harus rela menghamba. Komodifikasi adalah kondisi dimana keberlangsungan
hidup manusia untuk memenuhi kebutuhan didasarkan pada penjualan tenaga
kerjanya yang menghasilkan komoditas dalam bentuk upah.
Dalam kondisi ini, kebahagiaan tidak sepenuhnya terwujud karena sistem ini mengeksploitasi seluruh sendi manusia. Seperti yang dinyatakan oleh Radcliff, ketika tenaga manusia menjadi komoditas, maka manusia menjadi tunduk pada kekuatan pasar. Pasar menjadi penjara bagi tenaga kerja, sedangkan pasar dalam sistem kapitalisme adalah pasar yang kejam karena lebih mengutamakan nilai individualisme, persaingan bebas, ego dan keserakahan. Hingga pada akhirnya, pasar berada di luar kendali mereka.
Dalam kondisi ini, kebahagiaan tidak sepenuhnya terwujud karena sistem ini mengeksploitasi seluruh sendi manusia. Seperti yang dinyatakan oleh Radcliff, ketika tenaga manusia menjadi komoditas, maka manusia menjadi tunduk pada kekuatan pasar. Pasar menjadi penjara bagi tenaga kerja, sedangkan pasar dalam sistem kapitalisme adalah pasar yang kejam karena lebih mengutamakan nilai individualisme, persaingan bebas, ego dan keserakahan. Hingga pada akhirnya, pasar berada di luar kendali mereka.
Di Indonesia,
kondisinya lebih menyedihkan. Rendahnya selera pemerintah untuk menyejaherakan
masyarakat diperburuk dengan ketidakpahaman warganya akan tanggung jawab besar
pemerintah untuk memenuhi kebutuhan hidup . Warga buta politik. Mereka tak
mampu mengintervensi sistem sosial, ekonomi dan politik.
Mengapa hal ini dapat terjadi? Secara psikologis,
warga negara Indonesia kebanyakan masih hidup dengan kondisi mental sosial
politik yang cukup memprihantinkan: mental inlander (jajahan dan pasrah),
feodal, pengecut, khianat, pragmatis bahkan liberal. Sebuah kombinasi yang
sangat buruk. Dalam berbagai sistem sosial, ada mekanisme penyaringan yang
menetralisir tragedi dan penderitaan masyarakat. Baik yang dihasikan sendiri
oleh masyarakat maupun hasil hegemoni pemerintah, entah itu melalui sistem
keagamaan, hiburan dan sistem pendidikan serta sistem nilai yang sengaja
dibentuk untuk meninabobokan masyarakat. Masyarakat tetap bodoh dan tertindas
namun menikmatinya.
Jangan heran melihat masyarakat yang bahagia meski
sedang ditindas habis-habisan. Bahkan sebuah penelitian menyebutkan para siswa di
Indonesia berada pada ranking terendah dalam hal kecerdasan di bidang tertentu.
Namun semakin rendah tingkat kecerdasan, mereka justru berada pada level lebih
tinggi dalam hal kebahagiaan.
Hal yang paling menyedihkan dari kondisi ini adalah
ketika para manusia-manusia lulusan kampus yang katanya intelektual juga
ikut-ikutan menjadi apatis dan pragmatis, bukan hanya para mahasiwa yang kini
seolah lupa sejarah dan tidak sadar diri akan tanggung jawab moral yang
diemban, bahkan kebanyakan para akademisi juga tak mampu dijadikan harapan
dalam membawa perubahan intelektual masyarakat luas.
Jika kita tidak memiliki kapasitas unutk membantu
mengubah nasib orang banyak, tapi serendah-rendahnya akal, bukankah kita harus
peduli dengan nasib diri sendiri, orang tua atau para sanak saudara yang juga
menjadi korban sistem? Belum lagi kelakuan para mahasiswa dan kelas menengah
mencibir aksi sebagian warga yang berjuang untuk perubahan. Mereka, “orang kaya
tanggung”, semifeodal, yang mengkritik aksi demonstrasi, diskusi dan
aktivitas-aktivitas organisasional karena merasa terganggu. Namun paling
menikmati saat perjuangan itu berhasil. Sebagai manusia, sungguh mentalitas
kita tengah berada di level terendah. Semoga kita lekas sembuh.
Link AJNN - Bangsa yang Menikmati Penindasan



Komentar
Posting Komentar