Soal Dosa Intelektual dan Penyesalan Hari Tua
Suatu ketika, ketika diminta menjadi
pembicara di Komunitas KutaRaja Book Club, saya ditanya mengenai apa yang menjadi motivasi
saya dalam menulis. Saya menjawab, ini adalah tentang bagaimana cara saya
melepas dosa-dosa saya sebagai intelektual. Ya, karena bagi saya menulis itu
bukanlah hobi atau profesi. Jika ia hanya hobi dan profesi, maka cukup
segelintir orang saja yang menjadi penulis: yang hobi dan yang bercita-cita
berprofesi sebagai penulis saja. Saya tidak menulis karena hobi, saya justru
sering menulis karena keinginan yang dipaksakan, bahkan terkadang tanpa tau letak kepuasan ‘wah’
nya itu dimana. Bagi saya, menulis juga bukan profesi dan saya juga tidak
mencari uang dari menulis. Berapa banyak tulisan saya yang dimuat di media
namun tidak saya ambil honornya. Saya merasakan sesak ketika belum menulis,
sehingga saya hanya mendapat sedikit kelegaan seperti orang yang baru saja
melepaskan suatu dosa setelah selesai menulis.
Sebagai seorang intelektual, sebagai orang yang menguasai suatu bidang keilmuan dan memahami tentang realitas yang terjadi di masyarakat, kita tentu dituntut untuk wajib peduli terhadap realitas-realitas tersebut meski dengan upaya yang selemah-lemah iman sekalipun. Saya pusing jika tidak berbuat apa-apa ketika saya justru tau lebih banyak tentang realitas sosial, politik, hukum yang orang lain belum ketahui, yang karena ketidaktahuan itu mereka tersesat dalam realitas tersebut. Sedangkan saya mengetahui ketersesatan itu dan bahkan tau bagaimana jalan keluarnya, lantas saya diam saja? Kalau hati nurani memang sudah mati, mungkin tidak masalah. Tapi, saya tidak menderita amnesia pula. Pengetahuan akan realitas itu dan pengetahuan akan tanggung jawab itu tetap saja saya pikul dan saya bawa saban hari.
Sebagai seorang intelektual, sebagai orang yang menguasai suatu bidang keilmuan dan memahami tentang realitas yang terjadi di masyarakat, kita tentu dituntut untuk wajib peduli terhadap realitas-realitas tersebut meski dengan upaya yang selemah-lemah iman sekalipun. Saya pusing jika tidak berbuat apa-apa ketika saya justru tau lebih banyak tentang realitas sosial, politik, hukum yang orang lain belum ketahui, yang karena ketidaktahuan itu mereka tersesat dalam realitas tersebut. Sedangkan saya mengetahui ketersesatan itu dan bahkan tau bagaimana jalan keluarnya, lantas saya diam saja? Kalau hati nurani memang sudah mati, mungkin tidak masalah. Tapi, saya tidak menderita amnesia pula. Pengetahuan akan realitas itu dan pengetahuan akan tanggung jawab itu tetap saja saya pikul dan saya bawa saban hari.
Dengan ilmu, skill dan tanggung jawab
ini, sudah berapa bayak permasalahan masyarakat yang sudah kita respon? Sudah
sampai 10 % kah? Takutnya, belum. Mengapa kemudian menulis menjadi sangat
penting bagi mereka yang mengaku sebagai kaum yang sudah terdidik? Pada
dasarnya kita memang dapat mengabdi dalam bentuk apa saja sesuai dengan
keahlian di bidang masing-masing. Seorang dokter dapat mengabdi menyembuhkan
orang, seorang arsitek dapat mengabdi menyangkut pembangunan fisik, seorang
guru dapat mengabdi dengan mengajar, dan lain sebagainya. Namun, seberapa jauh ilmu
yang kita punya dapat bermaanfaat masyarakat, dalam hal bahwa ilmu dan pengetahuan yang kita miliki dapat dinikmati dan tersebar secara luas dalam bentuk pengetahuan, informasi, analisa, kajian solutif? Saya memakai logika sederhana seperti ini, saya sangat sering membayangkan andai masyarakat bisa memahami kondisi ekosospolhukam seperti saya memahami, memiliki pengetahuan dan mampu menganalisa seperti saya (atau bahkan jika hanya setengahnya saja) hidup mereka tentu tidak akan semenyedihkan sekarang. Andai masyarakat memiliki kapasitas seperempat pengetahuan saja dari seorang dokter ahli, mungkin mereka bisa hidup dengan lebih baik. Apakah kita harus mengetuk satu per satu pintu rumah masyarakat kita untuk menyebar informasi? Sepertinya bukan ide buruk, tapi tentu tidak efektif.
Apa yang harus kita lakukan ketika ada sejumlah masalah yang terjadi di masyarakat dan masalah tersebut tidak kian teratasi karena minimnya pengetahuan masyarakat terhadap masalah tersebut? Ketika saya butuh sejumlah informasi dan solusi atas masalah mengenai bidang kesehatan, lingkungan, pembangunan, pendidikan, ekonomi, hukum, pertambangan, dsb siapa lagi yang akan membantu menyebar informasi, ide dan solusi atas hal tersebut jika bukan orang-orang yang ahli di bidangnya? Siapa yang akan memberikan informasi mengenai gizi buruk dan kondisi kesehatan masyarakat jika bukan para pakar kesehatan, siapa yang akan memberikan pengetahuan mengenai lingkungan dan alam jika bukan mereka yang ahli di bidang science. Siapa yang akan membantu masyarakat memahami peristiwa-peristiwa politik jika bukan mereka yang ahli di didang politik, siapa yang akan membantu mencari solusi dan ide mengenai permasalahan ekonomi masyarakat jika bukan mereka yang memiliki pengetahuan di bidang ekonomi dan kewirausahaan? Kamu tetap bisa mengabdi meski tidak menulis. Tapi percayalah, ilmu mu tidak bermaanfaat dengan baik bagi orang banyak tanpa menulis.
Apa yang harus kita lakukan ketika ada sejumlah masalah yang terjadi di masyarakat dan masalah tersebut tidak kian teratasi karena minimnya pengetahuan masyarakat terhadap masalah tersebut? Ketika saya butuh sejumlah informasi dan solusi atas masalah mengenai bidang kesehatan, lingkungan, pembangunan, pendidikan, ekonomi, hukum, pertambangan, dsb siapa lagi yang akan membantu menyebar informasi, ide dan solusi atas hal tersebut jika bukan orang-orang yang ahli di bidangnya? Siapa yang akan memberikan informasi mengenai gizi buruk dan kondisi kesehatan masyarakat jika bukan para pakar kesehatan, siapa yang akan memberikan pengetahuan mengenai lingkungan dan alam jika bukan mereka yang ahli di bidang science. Siapa yang akan membantu masyarakat memahami peristiwa-peristiwa politik jika bukan mereka yang ahli di didang politik, siapa yang akan membantu mencari solusi dan ide mengenai permasalahan ekonomi masyarakat jika bukan mereka yang memiliki pengetahuan di bidang ekonomi dan kewirausahaan? Kamu tetap bisa mengabdi meski tidak menulis. Tapi percayalah, ilmu mu tidak bermaanfaat dengan baik bagi orang banyak tanpa menulis.
Ini juga adalah tentang ketakutan
dimana ketika suatu masa ketika menginjak usia tua renta, dan saya harus
merunut sejarah hidup mengenai hal-hal yang sudah dan belum saya lakukan,
apakah saya yakin bahwa saya tidak akan menyesali apapun? Karena menyesal itu
terkadang bsa menjadi racun paling buruk, tanpa obat.
Usaha kita memang jauh lebih sulit.
Bukan hanya membantu penyadaran atas masyarakat yang tidak tau, namun juga
melawan kebodohan yang sengaja disebar. Karena jika rakyat sudah paham tentang berbagai kondisi ekosospolhukkam, mereka tidak akan tinggal diam. Kita bersama-sama rakyat harus terus
berjuang untuk menjadi waras sehingga tidak membawa penyesalan hingga mati.
Sebelum dosa ini dicatat oleh malaikat, sebelum dihakimi oleh masyarakat dan
Tuhan nanti, mari kita lepaskan dosa intelektual ini melalui berkarya demi
kemanusiaan di bidang kita masing-masing. Satu pesan penting bagi diri sendiri
dan orang lain, jangan lupa menulis :)



Komentar
Posting Komentar