Jangan Lupakan Inong Balee








*Dimuat di Website Resmi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh dan
  Di Buletin Haba Kapita Selekta Sejarah dan Budaya edisi 77 

“Wanita Aceh melebihi kaum wanita bangsa-bangsa lainnya dalam keberanian dan tidak gentar mati bahkan merekapun melampaui kaum lelaki. Bukan sebagai wanita yang lemah dalam mempertahankan cita-cita dan agama mereka, menerima hak asasi di medan juang dan melahirkan anak-anak mereka diantara dua serbuan penyergapan. Mereka berjuang bersama-sama suaminya, kadang-kadang di sampingnya atau di depannya dan dalam tangannya yang mungil itu kelewang dan rencong menjadi senjata yang berbahaya. Wanita Aceh berperang di jalan Allah, mereka menolak segala macam kompromi.”

Kutipan tersebut merupakan sebuah ungkapan kekaguman HC Zentgraaff, seorang kopral marsose veteran Perang Aceh, dalam bukunya berjudul “De Atjeh” yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bagaimanapun, ketangguhan dan kepahlawanan perempuan-perempuan Aceh sudah diakui, tersohor hingga ke berbagai belahan dunia.

Pada kenyataannya, Aceh merupakan sebuah wilayah yang nyaris tak pernah surut oleh pergolakan. Paska kemerdekaan, Aceh harus meratap nasib mengenyam konflik bersenjata selama kurang lebih 30 tahun, ditambah dengan terjangan tsunami pada 2004 silam. Dan satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa selama masa konflik para perempuan Aceh memiliki peran yang signifikan dalam perjuangan. Sayangnya, sejarah sedikit luput mengenai keberadaan pasukan perempuan bersenjata yang juga merupakan pahlawan pada masa konflik. Keberadaaanya sangat sedikit mendapat perhatian, kurang diingat dan kurangdi catat dengan baik, yakni mereka yang disebut sebagai Pasukan Inong Balee.

Saya sering mendengar diskursus menyangkut tentang betapa minimnya dokumentasi dan penulisan sejarah secara utuh-menyeluruh mengenai segala hal yang menyangkut keberadaan, kontribusi dan kondisi terkini tentang Inong Balee. Saya sendiri membuktikan hal tersebut saat berusaha mencari referensi-referensi terkait mengenai Inong Balee, minim sekali.


Inong Balee ‘Generasi Pertama’

Untuk diketahui, pasukan Inong Balee bukanlah istilah baru dalam sejarah Aceh. Istilah untuk Pasukan Inong Balee sudah ada sejak masa Kerajaan Aceh silam. Jika diartikan secara harfiah, Inong Balee sendiri menurut bahasa Aceh sebenarnya bukanlah bermakna tentara perempuan, melainkan perempuan yang telah ditinggal suaminya atau janda. Nama armada Inong Balee inilah juga yang kemudian menjadi nama sebuah kesatuan dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang seluruh anggotanya terdiri dari para perempuan-perempuan Aceh, baik yang sudah menikah maupun yang masih gadis.

Keikutsertaan para perempuan Aceh ditemukan dalam perang tahun 1567 walau belum berhimpun dalam kesatuan khusus. Pasukan Inong Balee pertama kali dibentuk oleh sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil pada masa Kerajaan Aceh Darussalam yang merupakan armada perang dimana semua personilnya terdiri dari para janda–janda yang ditinggalkan oleh suaminya, pasukan Inong Balee ini di pimpin oleh laksamana Malahayati dengan mengambil teluk Krueng Raya sebagai pangkalan armada. Sebelum armada Inong Balee turun ke arena perang, para pasukan Inong Balee ini diberikan pelatihan militer agar kemudian mahir dalam mengunakan senjata dan mampu mengendalikan kapal-kapal serta memiliki kemampuan fisik yang kuat.

Armada Inong Balee sangat berperan dalam mempertahankan Kerajaan Aceh Darussalam dan menjaga laut Aceh dari penjajahan Portugis yang ingin menguasai wilayah Aceh dan mengambil kekayaan Aceh, dengan langkah pertama yang coba dirintis yaitu menguasai laut sebagai jalur transportasi pada saat itu. Ketangguhan armada yang dipimpin oleh laksamana Malahayati ini membuat portugis dan negara Eropa lainnya risih, karena armada Inong Balee Aceh telah memiliki seratus buah kapal perang, yang setiap kapal dilengkapi dengan meriam-meriam dan lila-lila. Kapal terbesar dilengkapi dengan lima meriam. Untuk ukuran zaman itu, armada Inong Balee dipandang sebagai armada yang kuat di selat malaka bahkan di samudra Asia Tenggara, seperti yang di jelaskan oleh Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh di Zaman Iskandar Muda (Mukhsin Rizal, 2015).

Para pahlawan perempuan Aceh setelahnya yang berjuang pada masa penjajahan juga kebanyakan merupakan Inong Balee. Tjut Nyak Dhien meneruskan perjuangan suaminya, Teuku Umar. Tjut Mutia aktif di daerah Pase bergerilya bersama suaminya melawan Belanda. Ketika suaminya tertawan dan dijatuhi hukuman tembak, dia tetap melanjutkan perjuangan. Pocut Baren, menjadi panglima perang menggantikan suaminya yang gugur di medan perang.


Perjuangan Inong Balee pada Masa Konflik

Sejak memasuki tahun 1976 perjuangan masyarakat Aceh bertransformasi menjadi gerakan perlawanan bersenjata bukan lagi terhadap penjajahan kolonialisme melainkan pemerintah Republik Indonesia. Dan salah satu bentuk perlawanan perempuan Aceh atas derita yang dihadapinya kala itu ialah dengan bergabung menjadi pasukan Inong Balee.

Seperti yang dinyatakan oleh Sugiarto A Santoso dan Ferry Yuniver S dalam buku Perempuan Dan Perdamaian Di Aceh, istilah Inong Balee dalam konflik kontemporer Aceh memang berubah maknanya menjadi semacam sebutan atas pasukan perempuan GAM yang anggotanya bukan saja janda—perempuan-perempuan yang suaminya meninggal baik karena ditembak atau mendapat perlakuan keras dari pihak militer atau kepolisian Indonesia—tetapi juga gadis atau istri dari anggota GAM. Fenomena Inong Balee pada masa konflik ini muncul sekitar tahun 1989, saat “Operasi Jaring Merah” atau OJM diberlakukan di Daerah Istimewa Aceh—sebelum otonomi khusus diberikan kepada Aceh. Operasi ini digelar karena adanya penyerangan-penyerangan secara sporadis terhada pos-pos polisi atau tentara di beberapa wilayah Aceh.

Julukan Inong Balee sebagai tentara perempuan itu diberikan Panglima GAM Tengku Abdullah Syafei. Nama itu sempat diganti menjadi Laskariyah dengan arti yang sama sebagai tentara wanita GAM oleh Panglima GAM Wilayah Jeunib yakni Tengku Darwis Jeunib. Sebutan itu berubah dan kembali ke julukan seperti sebelumnya. Dari Inong Bale menjadi Laskariyah dan kembali jadi Inong Bale. Jumlah mereka tak ada yang pasti. Mendiang Tengku Abdullah Syafii sempat mengklaim jumlah Inong Bale sekitar 2.000 orang. Klaim itu tak jauh berbeda dengan yang dikatakan juru bicara GAM Tengku Sofyan Daud. Keberadaan mereka tersebar seantero Tanah Rencong. Keberadaan mereka memang tak perlu diragukan. Dalam penyergapan yang menewaskan tujuh anggota marinir di perbukitan daerah Matang Kumbang, Jeumpa, Bireuen, ditemukan mayat perempuan. Senapan laras panjang juga ditemukan di dekat dirinya. Baik pihak TNI dan GAM, sama-sama mengklaim mayat wanita itu adalah tentara wanita GAM.

Saat itu, Inong Balee mempunyai peran strategis yang dapat dimainkan karena kecurigaan terhadap perempuan relatif kecil bila dibandingkan laki-laki. Sehingga perempuan lebih mudah untuk bergerak kemana-mana seperti mengantarkan obat-obatan, makanan, termasuk juga menegosiasikan pelepasan para tahanan. Perempuan juga menjadi informan misalnya dengan memberikan informasi situasi keamanan melalui perangkat radio HT, membersihkan senjata, membantu membuat granat, dan menjemur peluru (Sri Wahyuni dan Joko Sutranto dalam Laporan penelitian mengenai Situasi dan Peran Politik Perempuan Aceh Paska Damai, 2009).





Kemanakah Sang Inong Balee Kini?

Berdasarkan catatan Harian Umum Pelita, hanya ada dua berita yang sempat tersiar mengenai Inong Balee pada awal pelaksanaan DM. Pertama adalah mengenai tertangkapnya Cut Nur Asikin, 49, oleh Satuan Gabungan Reskrim dan Intelkam Banda Aceh pada 21 Mei 2003, dalam satu penggerebekan di tempat tinggalnya di Hotel Rajawali, Banda Aceh. Cut Nur Asikin ini diyakini oleh pihak Polri sebagai Komandan Inong Balee. Berita kedua adalah dari pertempuran sengit yang terjadi di Matang Kumbang, Bireun. Di antara lima anggota GSA yang tewas, pihak TNI menyebutkan satu di antaranya adalah wanita, yang tentu saja merupakan anggota Inong Balee. Selebihnya, tidak ditemukan berita spesifik mengenai laskar ini. Padahal, sebuah sumber menyebut-nyebut jumlah mereka mencapai 1.000 orang, bahkan 2.000 orang. Suatu jumlah yang fantastis, mengingat angkatan perang GSA sendiri tercatat hanya sebanyak 5.000-6.000 orang?

Berdasarkan informasi Kontras, yang pernah menemui seseorang yang mereka sebut sebagai “komandan” laskar Inong Balee, rekruitmen mereka tergolong ketat dan harus didasari keinginan sendiri serta mendapat izin dari orangtuanya. Setiap anggota Laskariyah, selain mendapat latihan militer, juga diberikan pendidikan agama serta hukum internasional, hukum humaniter, serta pendidikan intelijen. Setelah mengikuti latihan sampai berbulan-bulan di komando GAM setiap wilayah, para Laskariyah ada yang langsung bergerilya di hutan-hutan dan banyak juga yang bertugas sebagai intelijen. Salah satu sifat yang menonjol pada wanita adalah telaten dan jeli. Oleh karena itu pula, kepada mereka lebih banyak dibebankan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kejelian. Maka tak perlu diherankan jika di jajaran GSA Wilayah Pase (Aceh Utara) pekerjaan merakit bom dan granat lebih dipercayakan kepada Askariyah di bawah komando laskar Cut Meutia.

Dari informasi seorang calon anggota Inong Balee, mereka mendapatkan latihan militer selama tiga bulan. Pelatihnya adalah pria senior yang telah mendapat pengalaman latihan militer di luar negeri. Sedangkan jenis senjata yang bisa digunakan adalah M-16, AK, sten, bazoka, kasyaf, serta berbagai jenis dan kaliber pistol. Bahkan tentunya mahir pula menggunakan granat. Dikatakan pula untuk wilayah Pase, mayoritas dari 472 wanita anggota pasukannya masih gadis. Mereka mengaku rela menunda menikah agar perhatian dan waktunya—menurut mereka—menjadi lebih terkonsentrasi kepada tugas membebaskan bangsa Aceh dari penjajahan (Jones Sirait dalam Kemana Sang Inong Balee Pergi, n.d.).

Bakhtiar Abdullah, Juru Bicara GAM menguatkan bahwa pasukan inong balee punya peran besar, “Sangat banyak peran mereka dalam perjuangan GAM. Inong bale itu juga pejuang GAM bersama TNA. Perannya dulu beragam; dari ikut bergerilya sampai pemasok logistik untuk pasukan di hutan. Juga sebagai pemicu semangat juang para TNA. Siapa yang tak bangkit semangatnya melihat perempuan juga ikut memanggul senjata?”.

Melalui pemaparan di atas, setidaknya kita dapat mengetahui bahwa keberadaan Inong Balee bukanlah merupakan isapan jempol. Bagaimanapun itu, masyarakat Aceh bahkan dunia harusnya dapat mengetahui secara baik dan objektif bahwa selama masa konflik—yang dianggap sebagai salah satu masa perjuangan sakral oleh masyarakat Aceh—terdapat ribuan wanita tangguh dan militan, yang didik secara militer, ikut berjuang bahkan di medan pertempuran bersenjata, serta berbagai kontribusi dan peran-peran ganda lainnya yang tidak kalah hebat dengan kaum laki-laki.








Link Online Website Resmi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh - Jangan Lupakan Inong Balee



Komentar

Postingan Populer