Process of Reduction






Salah satu tujuan penting dari hidup adalah sebisa mungkin senantiasa menjadi dekat dengan kebaikan, menjadi manusia yang baik. Paling tidak bagi diri sendiri, terutama orang lain. Banyak yang mungkin tidak membutuhkan proses yang terlalu panjang untuk mencapainya, namun sebagian lainnya justru harus menemui jalan yang kompleks dan sedikit tertatih. Rasanya tidak apa, selama punya keinginan kuat dan mau berusaha. Meskipun niat yang begitu menggebu-gebu dari jauh-jauh hari telah kita lekatkan, mungkin saja hasil dan perubahan justru terasa setelah bertahun-tahun atau mungkin berpuluh-puluh tahun kemudian? Who knows? Setidaknya, hal yang kecil tetap akan tampak, pasti, menghargainya dan terus berusaha meningkatkan kualitasnya.

Semoga paradigma yang demikian dapat kekal dalam pikiran saya. Tak jarang, kita tidak lantas seketika memiliki formula sikap yang tepat dalam menyikapi suatu hal, meskipun ia sepele. Ketika sudah dihadapi dan ternyata pola sikap tersebut membawa dampak yang kurang berkenan barulah kemudian kita menyadari, ‘ternyata tadi saya salah’. Menyesalinya hingga taraf, andai saja yang namanya ‘kesalahan’ itu tidak pernah ada di muka bumi—semua orang sebenarnya tahu bahwa hal tersebut adalah hal mustahil, sepertinya juga bukan hal tepat. Namun sekedar memaafkan dan memaklumi diri sendiri saja ternyata membutuhkan waktu.

Hal ini adalah mengenai suatu pola sikap, dimana idealnya setiap orang harus mampu memporsikan segala sesuatu secara tepat. Ibarat seseorang yang ketika tidak makan selama beberapa hari, dan begitu ia memperoleh makanan, ia langsung melahapnya semua seketika bahkan hingga ia sakit perut dan tidak menyisakan walau sedikit untuk waktu yang di kemudian. Atau ibarat anak kecil yang memperoleh mainan, ia akan terus bermain tanpa jeda bahkan hingga mainan tersebut rusak dan ia sendiri akhirnya menangis meraung-raung akibatnya. Contoh lainnya adalah masyarakat negara tercinta Indonesia ini, yang ketika telah hidup dalam masa pemerintahan yang otoriter dan represif selama puluhan tahun, begitu keran demokrasi dibuka selebar-lebarnya, mereka justru kebablasan. Bukannya menjadi alat mencapai masyarakat ideal, reformasi dan demokasi terkadang justru menjadi sesuautu yang mendestruksi masyarakat itu sendiri. Makanan, mainan, reformasi dan demokrasi seperti yang disebutkan diatas sesungguhnya adalah sesuatu yang baik, sesuatu yang sangat dibutuhkan. Hanya saja, kebaikan-kebaikan itu ternyata membawa dampak yang berbeda ketika datang pada saat yang berbeda sehingga menghasilkan sikap yang berbeda. Karena, orang yang lapar atau masyarakat yang sudah sangat lama direpresikan tersebut bisa saja akan menyikapi secara berbeda andai kebaikan dan kompensasi yang datang bukan pada saat mereka sudah mencapai taraf kritis, pasrah, bahkan putus asa dalam berharap

Lantas bagaimana? Lagi-lagi, ini adalah masalah proses. Bentuk ideal dimana agar kita dapat menyikapi kebaikan yang telah datang dengan lebih baik bukannya hal yang mustahil, meskipun kebaikan tersebut datang pada saat kita berada pada situasi yang sangat emosional, euforia dan tidak terkontrol. Hanya saja kemakluman harus menyertainya. Ketika kebaikan yang datang membuat kita menyikapinya justru secara berlebih-lebihan, menjadi emosi ketika sedikit saja dihalang-halangi, reaksioner ketika dianggap tidak dipahami, hingga suatu ketika kita akan ada pada fase dimana kita mendapat negative feedback dan menyadarinya bahwa kita harus mereduksi perlahan-lahan sikap-sikap yang tak pantas tersebut. Mungkin saja kita akan mencapai suatu klimaks kontradiktif dengan diri sendiri, karena harus mengontrol dan membatasi sesuatu yang awalnya kita anggap layak kita dapatkan dan miliki sepenuhnya tanpa batas akibat suatu psikologis yang sudah sempat kritis pada masa awal. Namun yang pasti satu, kita bisa. Hanya saja harus bersabar pada proses. Semoga diri dan semua yang ada disekitar dapat ikut memaklumi dengan sebesar-besarnya pengertian.

Komentar

Postingan Populer