Gajah di Pelupuk Mata Tak Kelihatan
Serangan Israel ke Palestina pada Kamis larut malam (15/11) terhadap satu rumah di bagian utara Jalur Gaza sungguh telah menyita perhatian dunia. Jalur Gaza, daerah kantung Palestina, telah digempur pada Rabu (14/11), ketika Israel melancarkan serangan udara yang menewaskan komandan sayap militer HAMAS Ahmed Al-Jaabari. Serangan Israel merupakan reaksi terhadap serangan roket pejuang Palestina terhadap bagian selatan negara Yahudi dalam beberapa hari belakangan (Republika Online, 17/11).
Terutama bagi kaum muslim, tidak henti-hentinya memberikan kecaman terhadap tindakan Israel yang hingga Sabtu (17/11) telah memakan 30 orang korban jiwa dan korban luka-luka yang mencapai 280 orang. Di satu sisi, bantuan baik secara moril maupun materiil juga tak henti-hentinya mengalir terhadap masyarakat Palestina yang menjadi korban, tidak hanya oleh kaum muslim tapi oleh masyarakat lainnya di dunia .
Hanya, ada satu hal yang sedikit menggangguku. Aku melihat dukungan yang luar biasa terhadap masyarakat Palestina di lingkungan dekat ku sendiri, terutama oleh para teman-teman yag berkecimpung di dalam organisasi/gerakan Islam. Dukungan yang membuat aku merasa harus bilang: WOW! Bukan hanya mengecam lewat berbagai cara—baik berunjuk rasa maupun via media, atau sekedar melakukan doa bersama. Tapi juga hingga melakukan kegiatan-kegiatan amal untuk mengumpulkan dukungan dan bantuan secara materiil, seperti Konser Amal yang mendatangkan penyanyi-penyanyi terkenal dan berbagai jenis pertemuan lainnya dengan tujuan mengumpulkan Infaq. Dalam sehari ini saja entah berapa banyak SMS yang masuk ke HP ku yang berisikan undangan yang menyangkut dengan hal itu. Padahal Agresi militer yang dilakukan oleh Israel baru terjadi sekitar tidak lebih dari 3 hari yang lalu.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Sebagai seorang muslim, aku pun memiliki keprihatinan yang sama. Lalu?? yang sedikit menggangguku hanyalah pada persoalan, mengapa teman-teman dapat memberikan dukungan yang demikian hebatnya terhadap saudara-saudara yang nun jauh di Palestina, namun aku belum pernah melihat dukungan yang demikian hebatnya terhadap saudara-saudara yang ada di sekitar mereka, di Indonesia sendiri, dimana sangat banyak saudara-saudara muslim di Indonesia yang setiap detiknya juga seolah-olah menuju detik-detik kematian karena tidak mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan mereka. Juga banyak saudara muslim kurang mampu yang harus sekarat bahkan hingga meninggal karena tidak memperoleh akses kesehatan yang memadai akibat tidak memiliki biaya berobat ketika tengah sakit. Demikian juga saudara-saudara muslim yang tidak dapat sekolah, tidak memperoleh keadilan hukum, tidak memperoleh akses pekerjaan, yang kesemuanya menyebabkan penderitaan tak berujung. Saudara-saudara muslim yang jumlahnya teramat sangat signifikan di negara ini. Tidak lebih sedikit—mungkin lebih banyak dari korban yang berjatuhan di Gaza? Atau jangan-jangan, mereka adalah tetangga, teman atau kerabat kita sendiri? Silhkan amati sendiri.
Kondisi yang mereka dapati akibat pemerintahan yang korup dan pro neoliberal. Kondisi yang harus mereka dapati maski mereka telah berusaha hingga nyaris mati untuk dapat menghindarinya, namun tetap tidak bisa karena kebijakan-kebijakan dan penyelenggaraan pemerintah yang sebenarnya dapat menciptakan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi mereka, justru malah memihak kaum borjuasi dan elit-elit pemerintahan demi kepuasan dan kerakusan mereka.
Lantas, bantuan dan dukungan sekonkrit apakah yang telah diberikan terhadap saudara-saudara muslim tersebut? Sudah sehebat terhadap saudara-saudara yang nun jauh di Palestinakah? Sudahkah mengecam dan melakukan tuntutan-tuntutan terhadap pemerintahan yang tak kalah kejam dengan Israel itu? Itulah mengapa aku merasa: mengapa semut di seberang lautan dapat terlihat sangat jelas, namun gajah di pelupuk mata jstru malah tak tampak. Bukankah hal tersebut agak sedikit ironi?
Terutama bagi kaum muslim, tidak henti-hentinya memberikan kecaman terhadap tindakan Israel yang hingga Sabtu (17/11) telah memakan 30 orang korban jiwa dan korban luka-luka yang mencapai 280 orang. Di satu sisi, bantuan baik secara moril maupun materiil juga tak henti-hentinya mengalir terhadap masyarakat Palestina yang menjadi korban, tidak hanya oleh kaum muslim tapi oleh masyarakat lainnya di dunia .
Hanya, ada satu hal yang sedikit menggangguku. Aku melihat dukungan yang luar biasa terhadap masyarakat Palestina di lingkungan dekat ku sendiri, terutama oleh para teman-teman yag berkecimpung di dalam organisasi/gerakan Islam. Dukungan yang membuat aku merasa harus bilang: WOW! Bukan hanya mengecam lewat berbagai cara—baik berunjuk rasa maupun via media, atau sekedar melakukan doa bersama. Tapi juga hingga melakukan kegiatan-kegiatan amal untuk mengumpulkan dukungan dan bantuan secara materiil, seperti Konser Amal yang mendatangkan penyanyi-penyanyi terkenal dan berbagai jenis pertemuan lainnya dengan tujuan mengumpulkan Infaq. Dalam sehari ini saja entah berapa banyak SMS yang masuk ke HP ku yang berisikan undangan yang menyangkut dengan hal itu. Padahal Agresi militer yang dilakukan oleh Israel baru terjadi sekitar tidak lebih dari 3 hari yang lalu.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Sebagai seorang muslim, aku pun memiliki keprihatinan yang sama. Lalu?? yang sedikit menggangguku hanyalah pada persoalan, mengapa teman-teman dapat memberikan dukungan yang demikian hebatnya terhadap saudara-saudara yang nun jauh di Palestina, namun aku belum pernah melihat dukungan yang demikian hebatnya terhadap saudara-saudara yang ada di sekitar mereka, di Indonesia sendiri, dimana sangat banyak saudara-saudara muslim di Indonesia yang setiap detiknya juga seolah-olah menuju detik-detik kematian karena tidak mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan mereka. Juga banyak saudara muslim kurang mampu yang harus sekarat bahkan hingga meninggal karena tidak memperoleh akses kesehatan yang memadai akibat tidak memiliki biaya berobat ketika tengah sakit. Demikian juga saudara-saudara muslim yang tidak dapat sekolah, tidak memperoleh keadilan hukum, tidak memperoleh akses pekerjaan, yang kesemuanya menyebabkan penderitaan tak berujung. Saudara-saudara muslim yang jumlahnya teramat sangat signifikan di negara ini. Tidak lebih sedikit—mungkin lebih banyak dari korban yang berjatuhan di Gaza? Atau jangan-jangan, mereka adalah tetangga, teman atau kerabat kita sendiri? Silhkan amati sendiri. Kondisi yang mereka dapati akibat pemerintahan yang korup dan pro neoliberal. Kondisi yang harus mereka dapati maski mereka telah berusaha hingga nyaris mati untuk dapat menghindarinya, namun tetap tidak bisa karena kebijakan-kebijakan dan penyelenggaraan pemerintah yang sebenarnya dapat menciptakan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi mereka, justru malah memihak kaum borjuasi dan elit-elit pemerintahan demi kepuasan dan kerakusan mereka.
Lantas, bantuan dan dukungan sekonkrit apakah yang telah diberikan terhadap saudara-saudara muslim tersebut? Sudah sehebat terhadap saudara-saudara yang nun jauh di Palestinakah? Sudahkah mengecam dan melakukan tuntutan-tuntutan terhadap pemerintahan yang tak kalah kejam dengan Israel itu? Itulah mengapa aku merasa: mengapa semut di seberang lautan dapat terlihat sangat jelas, namun gajah di pelupuk mata jstru malah tak tampak. Bukankah hal tersebut agak sedikit ironi?



Komentar
Posting Komentar