Menjadi Perempuan-Perempuan Produktif

Tiga wanita penerima Penghargaan Nobel Perdamaian 2011 karena dianggap memiliki peran penting dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan perlindungan wanita dari kekerasan. Ketiga wanita tersebut mampu menunjukan bagaimana wanita bisa menghadapi perang dan penindasan untuk perdamaian dan demokrasi.
Sungguh merasa beruntung telah dilahirkan sebagai perempuan. Makhluk Tuhan yang katanya cukup istimewa. Manusia-manusia ‘cantik’ yang dimuliakan karena jasanya dalam kehidupan. Meski banyak yang menilai mereka merupakan jenis ciptaan yang rapuh, namun tetap ada perempuan-perempuan di dunia yang menyuguhkan banyak keajaiban yang lahir dari tangan, pikiran, hati dan lisan mereka.

Ini pula yang membuat risau. Perempuan dipandang lemah, rapuh, tak berdaya, namun para perempuan sendiri mengamininya. Bukan tak ingin mengakui kekurangan. Sayangnya, kekurangan yang dikurang-kurangkan itu malah dijadikan alasan  untuk diperlakukan semena-mena, dinomorduakan, dikekang, didiskriminasikan dan diperlakukan kasar.

Ya. . .para perempuan mengamininya. Mereka menerima keadaan yang menimpanya sebagai sebuah kelaziman. Atas seburuk apapun perlakuan, serendah apapun dipandang, sekasar apapun dicerca dan dihina, para perempuan mampu menenangkan hati dengan menganggap bahwa hal itu memang sudah takdir. Kasihan!

Aku sangat rindu melihat para perempuan menjadi lebih dari itu. Aku hanya ingin perempuan juga ‘dapat dihargai’ sebagaimana laki-laki. Aku hanya ingin dunia tau bahwa perempuan juga makhluk yang cerdas, makhluk yang kuat, meski tak seperkasa laki-laki, bukan kuat untuk menerima ketertindasan, namun kuat untuk merubah keadaan, kuat untuk memperbaiki kualitas kehidupan menjadi lebih baik.

Aku sudah banyak mendengar tentang kehebatan perempuan dalam mengubah dunia, dalam memimpin masyarakat bahkan negara. Namun mengapa hal itu tak jua membuat makhluk-makhluk cantik lainnya untuk sadar bahwa perempuan juga memiliki kualitas, kapasitas, kinerja dan prestasi. Perempuan juga bisa cerdas, mereka juga punya kekuatan, mereka pantas memimpin, mereka juga mampu memberikan kontribusi bagi orang lain---selemah-lemahnya bagi keluarga dan diri sendiri.

Lantas, mengapa tak menjadi perempuan-perempuan produktif?
Agar perempuan menjadi punya harga, punya nilai, tidak lagi disepelekan dan dipandang sebelah mata.
Agar perempuan tak dianggap tak memiliki kapasitas apapun selain dari melayani suami, mengurus anak dan rumah semata.
Agar kehormatan perempuan tak hanya dinilai dari sekedar keperawannya masih terjaga dengan baik atau tidak.
Agar ketertarikan terhadap perempuan tak hanya sekedar diukur lewat tubuh dan wajahnya.
Agar perempuan mampu mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri dengan pendidikan dan kariernya yang cemerlang.
Agar bidang-bidang kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, dan pemerintahan tak hanya menjadi dominasi kaum adam semata dan menunjukkan bahwa wanita juga mampu berkiprah.

Sayangnya, banyak perempuan yang ingin dihargai, namun mereka tak mampu memberikan alasan  kepada orang lain, apa yang membuat mereka layak untuk dihargai. Andai sedikit saja para perempuan sadar, dengan menjadi produktif, maka mereka akan lebih dihargai. Dengan demikian, mereka tak akan merasa cukup hanya dengan berkutat di dalam rumah semata. Tapi juga akan memberdayakan diri, menuntut pendidikan setinggi-tingginya, lalu kembali ke masyarakat untuk menghasilkan kontribusi. Maka kemudian, siapa yang akan berani meremehkan, apa lagi menindas mereka? Siapapun akan berpikir-pikir dahulu untuk bertindak sembarangan terhadap perempuan yang bukan sembarang perempuan. Dengan menjadi produktif, sesungguhnya perempuan sedang mengikis penindasan yang terjadi terhadap dirinya.

Bukankah perempuan sendiri juga sudah melihat dengan mata kepala telanjang mereka, apa yang terjadi saat angka standar minimal kebutuhan hidup meninggi? Saat harga sembako meroket, saat harga BBM, air, listrik, telepon melambung, saat biaya pendidikan untuk anak tak lagi terjangkau, saat biaya berobat ketika sakit tak dapat ditanggulangi. Kebanyakan perempuan tak mampu berbuat apa-apa.

Belum lagi ketika suami telah tiada atau hubungan terhenti di tengah jalan dan akhirnya berpisah, para perempuan hanya bisa gigit jari. Mau bagaimana memenuhi kebutuhan hidup jika tanpa kapasitas yang dapat diandalkan? Kenyataannya, kebanyakan perempuan pada akhirnya hanya mampu menggantungkan hidup dengan menjadi pembantu rumah tangga, pengemis, bahkan pekerja seks komersial. Entah siapa yang harus disalahkan dari keadaan ini.
Itu baru tuntutan untuk produktif bagi kebutuhan privat, belum lagi jika kita harus mengulas kewajiban setiap orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial-kemasyarakatan dan kenegaraan, dimana setiap orang idealnya mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban sosial untuk berpatisipasi aktif memberikan produksi, pelayanan dan pengabdian bagi khalayak ramai.

Bukankah sunguh disayangkan, ketika dunia sedang bergerak pesat menuju kea rah kemajuan, pembangunan, modernisasi, progresivitas, namun para perempuan malah masih jalan di tempat. Jadilah perempuan-perempuan produktif !!!

Komentar

Postingan Populer