Kartini Seorang Yahudi?

Ada kalanya, beban berpikir membuat kita lupa dengan suatu momen penting. Seperti hari ini dimana aku merasa sedikit konyol karena tak menyadari bahwa hari ini adalah hari yang bertanggal 21 April, Hari Kartini, hari penting bagi para perempuan Indonesia. Bukan tanpa alasan. Karena patutnya aku dapat menjadikan momen ini untuk kembali mengkampanyekan persoalan-persoalan perempuan. Sedikit alas an, tapi sungguh belakangan ini aku hanya bisa mengingat satu kata: Skripsi.

Padahal memperingati Hari Kartini menjadi penting bagi perempuan Indonesia. Namun jangan salah, bukan untuk memperingati hari lahirnya sang tokoh, memuja-muja ketokohan sang kartini. Namun memanfaatkan momen ini untuk membangkitkan semangat perempuan Indonesia untuk meneruskan perjuangan sang Tokoh. Karena ternyata, apa yang dulu pernah berusaha untuk diperjuangkan oleh Kartini, hingga kini belum memperoleh hasil yang memuaskan, padahal telah berjarak ratusan tahun lamanya.

Namun, ada satu hal yang sedikit mengusik saya terkait dengan Ibunda Kartini, yakni entah mengapa ada pihak-pihak tertentu yang mengait-ngaitkan Kartini dengan freemansory dan Yahudi. Saya tidak paham, mengapa ada yang begitu sinis terhadap Kartini dengan berusaha menuangkan bercak hitam ke dalam sosok Kartini.


Jujur, saya pribadi bukan pemuja fanatik Kartini. Saya bahkan tidak hafal dengan riwayat hidup Kartini. Hanya satu hal yang mungkin akan saya ingat selamanya tentang sang Ibu: Beliau adalah wanita yang berusaha berjuang dan mengangkat harkat hidup kaum perempuan yang selama ini sangat tertindas. Bahkan beliau sendiri menjadi bukti sebagai bagian dari wanita yang tertindas karena harus menikah dengan bupati Rembang yang sudah memiliki tiga istri dan meninggal diusia yang sangat muda.

Pandangan yang mengaitkan-ngaitkan Kartini dengan Yahudi disinyalir berasal dari asumsi bahwa Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, berpemahaman Theosofi dan pluralis yang kemudian berdampak pada pemikirannya dan tulisan-tulisannya.
Kartini sendiri sering membaca buku-buku, koran, dan majalah Eropa, sehingga Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah (Wikipedia).

Permasalahan pertama, tidak pantas menjustifikasi seseorang beragama Yahudi, Kristian, dsb hanya karena berteman dekat dengan mereka.

Kemudian, jika memang berteman dengan para penganut agama berbeda dapat membuka ruang pikiran dan dan pengetahuan bagi Kartini bahwa ternyata selama ini perempuan Indonesia berada di dalam kondisi tertindas dan ada di kelas yang rendah dalam masyarakat, berbeda dengan para perempuan di Eropa yang dihargai secara setara, kemudian menggugah hati Kartini untuk berjuang melalui berbagai cara, saya justru bersyukur bahwa Kartini pernah berteman dengan mereka.

Tak dapat dielakkan, bahwa Kartini penganut kesetaraan dan pluralisme, pemikiran yang mungkin akan dipertentangkan oleh penganut ajaran Islam (lebih tepatnya mungkin Islam fundamentalis) . Mungkin sebagian orang Islam akan sinis terhadap surat-surat Kartini yang terkesan mengkritik agama Islam. Seperti ketika Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Dan berbagai kritikan lainnya yang senada (id.wikipedia.org/wiki/Kartini).
 

Namun, saya melihat pemikiran tersebut merupakan bagian dari kekritisan Kartini yang kecewa pada pola ajaran Islam pada masa hidupnya yang sangat berbau feodalisme, yang melahirkan patriarkisme, salah satu penyebab penderitaan perempuan Indonesia pada saat itu.

Sedangkan baginya, perempuan seharusnya memiliki hak yang sama untuk memperoleh kualitas hidup yang layak dengan laki di semua bidang (baca: pendidikan, ekonomi, sosial, politik, hukum, dll).

Satu hal yang membuat saya bingung, mengapa ada orang Islam yang sinis dengan Kartini akibat pemikirannya yang mungkin saja terpengaruh oleh teman-temannya yang Yahudi, jika pemikirannya tersebut berupa kesetaraan hak-hak asasi antara laki-laki dan perempuan? Apakah di dalam agama Islam sendiri dengan tegas dinyatakan bahwa perempuan wajib dimuliakan, dan berhak memperoleh kehidupan yang pantas terkait berbagai bidang. Apakah agama Islam merupakan agama yang mendiskriminasikan perempuan? Jika ya, silahkan hujat Kartini sepuasnya.

Satu pandangan miring lain yang ditujukan terhadap Kartini adalah, mengapa harus Kartini yang dijadikan icon gender dan perjuangan perempuan, sedangkan masih sangat banyak terdapat tokoh dan perempuan-perempuan di Indonesia yang terkenal kehebatan, keberanian dan perjuangannya (sehingga diambil kesimpulan, karena Kartini adalah seorang Yahudi, Theosofi dan pluralism, maka pihak Belanda memblow-up beliau).

Sejarah memang memberikan banyak contoh tentang para perempuan yang memiliki kekuasaan, keberanian dan bakat yang luar biasa. Para perempuan semacam itu kita kenal sebagai kaisar-kaisar perempuan dan ratu-ratu yang terkenal, pejuang-pejuang perempuan yang gagah berani, orang-orang suci, tukang-tukang sihir perempuan, ilmuwan-ilmuwan perempuan, penyair-penyair perempuan dan seniman-seniman perempuan. Kita bisa melihat Boadicea (61M), prajurit ratu yang menentang pendudukan Roma atas inggris, Ratu Elisabeth II (1533-1603) penguasa besar kerajaan Inggris yang menginspirasi renaisans Inggris, Kaisar catherina yang Agung(1729-1796) orang Jerman memerintah rusia selama 35 tahun, Sappho (650 SM) penyair besar pada masa Yunani kuno. Di Indonesia, kita mengenal ada ratu Sima, penguasa kerajaan Kalingga di Jawa Tengah. kemudian ada Cut Nyak Dien (1850-1908), seorang perempuan Aceh yang gagah berani dalam melawan Belanda, Laksamana Malahayati( 1585-1604), Cristina Marta Tiahahu (Maluku) dan juga Cut Mutia (aceh).Namun ada satu hal yang harus dicatat, mereka memang adalah orang-orang yang terkenal dalam sejarah kaum perempuan. Namun mereka tidak lebih dari pengecualian-pengecualian individual yang tidak (dan tak bisa) berpengaruh atau memajukan secara nyata status dari mayoritas luas kaum perempuan awam dan tertindas (Ulfa Ilyas dalam Perempuan Membebaskan Dirinya: Sejarah Gerakan Perempuan).

Saya mememberikan rasa hormat tak terhingga terhadap perempuan-perempuan yang namanya dibadikan oleh tinta emas di dalam sejarah sebagai perempuan-perempuan tangguh. Melalui mereka lah, saya menjadi tahu bahwa perempuan memang tak selemah dan tak sebodoh seperti yang distereptipkan selama ini. Dan dengan menunjuk pada mereka lah, saya dapat mengatakan pada dunia bahwa perempuan memiliki ketangguhan dan kepintaran yang tak kalah dengan laki-laki sehingga kaum perempuan tak layak didiskriminasikan dan ditindas. Namun, harus diakui mereka-mereka itu bukan berjuang atas nama gender, sedangkan perempuan berada di suatu kondisi yang juga membutuhkan suatu perjuangan lebih terhadap situasinya yang belum setara. Kartini lah, perempuan yang menentang poligami, perkawinan paksa dan penjajahan, dan menyerukan hak-hak perempuan terhadap pendidikan, juga mendirikan sebuah sekolah untuk gadis-gadis dengan 120 orang muridnya. Sehingga mengapa Kartini lebih dikenang sebagai ikon gender dan perjuangan perempuan.

Inilah yang dapat saya utarakan atas pengetahuan yang masih sangat dangkal.

Ah ibu, tiba-tiba sangat rindu dengan sosokmu!

Komentar

Postingan Populer