Pendidikan Feodal VS Demokratis

Sisa-sisa feodalisme yang masih membudaya ternyata terasa dampaknya di banyak sisi kehidupan. Bahkan termasuk di lembaga-lembaga formal pendidikan: Sekolah. Tulisan ini sesungguhnya bagian dari refleksi setelah melakukan pengamatan dan tugas praktikan mengajar di sebuah Sekolah Menengan Atas. Namun selayaknya juga juga dapat menjadi refleksi bagi semua orang, terutama para pendidik agar dapat manjadi panutan yang lebih humanis kelak.

Jujur, saya tak dapat menyembunyikan keheranan dan kekecewaan, saat mendapati guru-guru di sekolah tersebut memperlakukan para siswa tidak seperti yang saya harapkan. Padahal saya membayangkan para guru di sana dapat saya jadikan teladan dan acuan bagi saya yang masih pemula.

Sisa-sisa feodalisme dan pendidikann gaya lama masih begitu kental terasa saat guru memposisikan siswa sebagai objek yang harus mematuhi apapun instruksi guru, tanpa proses dialogis dan kompromis. Yang paling mengecewakan, guru-guru sangat terbiasa berkata kasar bahkan masih terdapat guru yang memukul siswa yang dianggap tidak patuh.

Proses pembelajaran pun masih menjadi aktivitas dogmatis, memindahkan isi pikiran guru ke kepala siswa. Siswa setiap harinya hanya menjadi objek pasif yang menerima doktrin-doktrin guru—pola pembelajaran yang tak akan pernah mengembangkan dan meningkatkan daya kritis siswa.

Dan jika semakin diperhatikan, sekolah semakin terlihat seperti penjara dibandingkan wahana belajar yang menyenangkan. Siswa-siswa ditekankan harus menjadi seperti yang diinginkan sekolah, sehingga proses penghukuman dan penyelesaian masalah pun jauh dari toleransi dan demokratis.

Bagi saya yang selama ini dibekali penerapan pendidikan dan pembelajaran yang kontruktivis dan demokratis, pemandangan-pemandangan tersebut sungguh membuat hati ‘gemas’ dan iba tak terkira terhadap peserta didik yang menjadi korban pola pendidikan yang demikian.

Dalam pandangan konstruktivisme, Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa, (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal, (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas, (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.

Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.

Pemahaman terhadap pendidikan Kontruktivis akan menjadikan para pendidik lebih bijaksana dalam pembelajaran dan memperlakukan para siswa. Karena proses belajar seyogyanya bukan hanya mencakup proses kognitif yang mengabaikan proses mental siswa. Siswa bukanlah patung yang hanya didogma dengan asupan-asupan teori dan ceramah yang wajib dipatuhi dan diterima dengan paksa. Apa lagi perlakuan kasar sikap mereka yang terkadang terlihat menyimpang. Anak juga memiliki aspek mental dan psikologi yang tak dapat diacuhkan dan diperlakukan semena-mena. Entah mengapa, aspek mental, psikologi dan kepribadian menjadi aspek yang luput oleh perhatian kebanyak guru.

Anehnya, guru-guru seolah tidak dapat menerima jika terkadang siswa melakukan tindakan-tindakan menyimpang. Padahal, bukankah siswa merupakan ‘anak’ yang fisik, mental, psikologi, pikiran dan kepribadiannya masih dalam tahap perkembangan. Mereka justru sedang dalam proses untuk mengelola diri dan jati diri. Kondisi emosi dan mental mereka yang masih labil dan dalam tahap perkembangan teramat sangat memungkinkan mereka berperilaku menyimpang. Oleh karenanya, mereka sangat mebutuhkan pihak-pihak yang mengarahkan, membina dan mendidik melalui cara-cara yang tepat agar aspek-aspek yang ada di dalam diri mereka dapat berkembang dengan baik pula.

Guru-guru mengkin bisa saja ‘mencetak’ siswa –siswa sekaliber Eistein dan ilmuwan-ilmuwan yang paling cerdas terhadap rumus-rumus dan teori.namun jangan pernah salahkan para siswa jika kelaj dikemudian hari, mereka menjadi sosok-sosok yang berkepribadian buruk akibat pola pembinaan mental dan psikis yang buruk dan terabaikan.

Namun sesungguhnya di berbagai sudut negeri ini, saya yakin masih terdapat guru-guru yang dicintai oleh siswa-siswanya karena kepribadiannya yang toleran, demokratis dan dialogis. Melaluinya, siswa-siswa dapat menerima ilmu pengetahuan bukan karena terpaksa, namun karena sang guru mampu memotivasi dan mampu menjadikan ilmu sebagai sesuatu kebutuhan oleh para siswa. Bahkan mampu menjadi sahabat bagi mereka, mendengarkan keluh kesah siswa terhadap persoalan yang mereka hadapi. Menjadikan proses belajar ,mengajar menjadi aktivitas yang menyenangkan, menjadikan perspektif dan kondisi siswa sebagai hal yang layak dipertimbangkan dalam menyajikan pembelajaran, serta memahami kebutuhan dan keinginan siswa sebagai manusia sebagai manusia yang juga berhak menentukan kehendak.

Semoga…………

Komentar

Postingan Populer